bugaraga

Pelari yang sudah seperti seleb di Instagram ini menceritakan perjuangannya membentuk badan, dan mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba marathon kelas dunia. Yang ingin serius berprestasi, wajib baca.

bugaragaBugaraga – Jika Anda pelari, bisa jadi Anda mengenal sosoknya lewat akun Instagram. Karena, bukan hal yang berlebihan jika sosok Sally Tanudjaja menjadi banyak dikenal orang – mungkin sudah selevel selebgram – lewat akun Instagram @sallytanudjaja.

Bagi yang baru pertama kali melihat akun ini, sangat wajar bila banyak yang menyangkanya masih berusia 20-an.  Wajah cantik, kulit sawo matang, tubuh fit, atletis pasti mengecoh semua orang yang baru ingin mengenalnya lewat Instagram.

Nyatanya, ia adalah Ibu dari tiga orang anak, yang berusia 39 tahun yang memang tergila-gila dengan olahraga, terutama lari. Dan kecintaaanya akan olahraga itu ia tampilkan dalam setiap postingan.

Kalau Anda misalnya, sebagai ibu-ibu yang mempunyai anak, jadi termotivasi untuk berolahraga dengan keras demi fisik yang prima, berarti Sally berhasil menularkan  gaya hidup sehat ini lewat sosial media.

Dan untuk kaum Adam, jangan hanya betah kepoin postingan wanita asal Bandung ini ya… harusnya itu bisa juga jadi motivasi untuk sehat bersama keluarga.

DITEGUR DOKTER

Nah, tapi tentunya Sally bisa mencapai shape seperti ini juga melewati proses yang lama dan konsisten. Makanya, tim Bugaraga merasa perlu bertemu langsung dengannya di Bandung untuk kenal lebih dekat. Pada pertemuan itu, terungkaplah “kegilaan” Sally akan olahraga. Dan ia pun melayangkan ingatannya sampai 15 tahun yang lalu.

“Dulu, zamannya aerobik, saya mulai suka ikut, Terus fitness pakai alat, saya juga rutin. Tapi lalu berhenti karena saya jadi kekar. Lalu saya mulai spinning (sepeda statis), tapi dulu mah belum ada istilah RPM,” ujarnya dengan logat sunda yang kental.

Beruntung, ketika resmi menjadi istri Richard Martinus, sang suami sangat mengerti akan kebutuhan istrinya yang berprinsip tiada hari tanpa olahraga.

Bahkan, selama menjalani masa kehamilan ketiga anaknya, Sally masih terus berolahraga dengan intensitas tinggi. Ketika hamil anak pertama, dia masih menyempatkan diri melatih staminanya dengan melakukan aerobik tiap hari.

Sally yang selalu menjalani proses kelahiran caesar, tak perlu menunggu waktu lama untuk “menyiksa” ototnya lagi. “Sebulan setelah operasi, saya sudah olahraga lagi. Dokter sampai takut jahitannya jebol. Untunglah anak-anak saya sehat semua,” ujarnya sambil tertawa.

Ibunda dari Clayrence Tedjarahadi (13), Mikayla Tedjarahadi (11), dan Jillian Tedjarahadi (3,5) ini juga sempat membuat dokternya geleng-geleng kepala. Ketika hamil anak ketiga, Sally bersikeras melakukan latihan RPM dan treadmill untuk menjaga endurance. Kegiatan ini tentunya terus diawasi ketat oleh dokter, sehingga begitu bayi di dalam kandungannya terpantau agak kecil, Sally langsung disarankan untuk merubah jenis olahraganya.

“Saya ditegor dokter, akhirnya saya ganti olahraga dengan berenang,” aku wanita yang mengimbangi olahraganya dengan mengonsumsi nasi merah dan hitam.

Jika Anda termasuk yang belum percaya tentang “ketagihan olahraga”, Sally bisa dijadikan bukti yang sahih. Sehari tak melatih otot saja, ia langsung merasa tak nyaman sekujur tubuh. “Apalagi kalau (suka) lari. Latihannya harus konsisten. Berhenti sedikit saja, pasti lemas.” jelasnya.

“Makanya saya suka salut kalau kenal sama pelari yang punya kerja kantoran, tapi masih bisa menyempatkan latihan lari setiap pagi dan sore. Karena saya tahu itu susah sekali,” lanjut Sally.

SUKSES BERLIN MARATHON

Sally lantas bercerita soal jadwal larinya yang padat tiap hari. Dimulai pada saat anaknya sudah berangkat sekolah semua. Kalo tak ada rencana ikut race, Sally biasa memulai latihan dengan lari paling tidak 5 km setiap pagi dimulai pukul 6.30. “Nggak harus langsung lari. Pokoknya harus dimulai 6.30, biar pukul 10 sudah selesai,”  jelasnya.

Lalu, Sally biasanya lebih banyak melatih otot di gym.  Sore harinya, ia pun mengulangi lari sejauh 5 km. Pada akhir pekan, bila tak ada race, porsi larinya ditambah menjadi 12-15 km.

bugaraga

“Lari bagi saya sudah sebuah kebutuhan, seperti makan. Kalo nggak olahraga sehari aja, jadinya nggak enak badan. Jadi nggak bisa tuh libur dulu. Rest-nya adalah mengurangi intensitasnya,” tegasnya.

Dan semua latihan standar itu berubah drastis ketika ia berencana mengikuti lomba. Contohnya adalah ketika ia memutuskan untuk mengikuti Full Marathon di Berlin Marathon 2017 lalu.

Pola dan intensitas bahkan lokasi latihannya pun sengaja di-upgrade. Misalnya, ia dengan sukarela berlatih bersama para atlet di Lapangan Secapa AD, Hegarmanah, Bandung.

Sally mengurangi porsi latihan di gym, dan konsentrasi di Lapangan Secapa untuk lari ataupun latihan crossfit. “Tapi paginya tetap lari, siang ke gym, dan mengulang lari di sore hari. Di Bandung kemana-mana deket kok. Ke Secapa aja saya lari,” lanjutnya.

“Bagusnya ikutan di Lapangan Secapa itu adalah, yang ikut atlet semua, jadi saya semangat soalnya sekalian belajar teknik yang benar,” kata wanita yang pertama kali ikut race di Bajak Jakarta 2013, dan langsung meraih tempat ke tujuh.

bugaraga

Berlin Marathon 2017 merupakan Full Marathon (42,195 km) pertamanya sejak Sally mulai gemar berlari pada masa kuliah di Swiss tahun 1998.

Rasa khawatir dan gentar tentunya ia rasakan, apalagi beberapa teman dekatnya sempat menanyakan keyakinan untuk menyelesaikan lomba tersebut. Maklum, paling pol biasanya Sally mengikuti kategori Half Marathon.

“Nggak kebayang tadinya bisa menyelesaikan Full Marathon. Bayangin jalanin 42 km sendirian, takut nggak finish,” kenangnya. Alhasil, malah bikin Sally stres. Makanya begitu mendapat lotre untuk event besar itu, ia langsung mengajak suaminya untuk memberi dukungan, sekalian plesir ke ibukota Jerman itu .

“Saya bawa fun aja, tapi tetap ada pencapaian. Target saya, catatan waktu saya harus bagus,” celoteh pelari yang sekarang di-endorse oleh produk pakaian olahraga 2XU ini sambil terseyum.

Dukungan saat lomba pun datang dari Steven Samudera, rekannya sesama pelari. Ia turut berlari bersama Sally sampai 25 km. “Marathon tuh harus ada temennya. Biar ada yang narik, bisa bikin tambah semangat,” tukas wanita yang juga di-support oleh brand asupan kebugaran, Maxine’s.

Hasilnya, target pencapaian Sally terbayar. Ia menyelesaikan Berlin Marathon dengan catatan waktu 3 jam 58 menit. Ini berarti di bawah 4 jam. Waktu yang tergolong cepat buat seorang pelari menyelesaikan lomba Full Marathon.

“Padahal saya udah lemes di km 30-an, eh tiba-tiba saya disusul nenek-nenek pake celana pendek. Jadi semangat lagi deh,” kenangnya.

TIPS LATIHAN UNTUK PEMULA 

Sally gemar berbagi pengalaman dan tipsnya untuk orang-orang yang ingin memulai serius berolahraga terutama lari. Lewat sosial media, bahkan ketika bertemu langsung pada saat berlari, ia sering menyempatkan waktu menjawab pertanyaan-pertanyaan orang.

bugaraga

Baginya, yang penting adalah target apa yang ingin dicapai. Mau senang-senang, boleh saja. Target perubahan fisik? Lebih bagus lagi.

“Untuk fun aja tetap harus ada tingkatannya. Dulu saya sempat salah strategi. Ingin kurus, banyak olahraga, tapi nggak mau makan. Malah jadi anoreksia dan harus masuk rumah sakit. Yang perlu diingat adalah tubuh itu perlu nutrisi. Jangan takut makan daging, karena itu bagus untuk otot. Yang perlu diatur adalah porsi dan waktu makannya,” terangnya.

Selain makan, tentunya latihan dan istirahat.

“Latihan yang baik buat seorang pemula adalah bersama pelatih atau orang yang sudah berpengalaman. Supaya mendapat teknik dan pola latihan yang benar dan hasilnya juga maksimal,” tuturnya.

Istirahatlah yang sering dianggap remeh pemula. Kurang tidur menjelang latihan lari, misalnya. Bukan hanya membuat badan lemas, tapi bisa berakibat fatal. “Misalnya besok mau olahraga tapi malamnya pergi jalan-jalan sampai larut, pasti nggak akan kuat besok paginya,” lanjutnya.

Lantas, apa target event berikutnya Sally?

“Jika tidak ada kendala dan semua persiapan berjalan lancar, tahun ini saya akan mengikuti Chicago Marathon!” ujarnya sambil menutup percakapan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *