Bugaraga – Pada tanggal 7-9 Desember 2018 kemarin merupakan tahun keenam diadakannya NusantaRun Chapter 6. Mengambil rute dari Wonosobo menuju Gunung Kidul, dengan 2 kategori, yaitu Full Category (169 km) serta Half Category (84 km). Dengan mengusung tema “The Power of Contribution”, berikut  6 keseruan yang hanya ada di NusantaRun chapter 6.

  1. Jarak terjauh dengan medan yang cukup variatif

Sumber: tim dokumentasi nusantarun/mahfud.achyar

Di sepanjang sejarah diadakannya NusantaRun, chapter ini merupakan jarak terpanjang serta medan “terganas” yang harus dilalui oleh pelari. Bagaimana tidak, berawal dari daerah pegunungan di Wonosobo lalu finish di pantai, para pembawa misi ini juga harus diuji dengan melalui jalanan dengan elevasi yang bervariasi.

  1. Diet plastik

Seperti yang telah diketahui bersama, plastik tidak dapat terurai, sehingga mengakibatkan pencemaran lingkungan, serta berdampak serius pada kesehatan.  Melihat fakta tersebut, maka dilakukan diet plastik di NusantaRun chapter 6 ini.

Para pelari dan relawan diwajibkan membawa tumbler serta tempat makan sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik. Selain itu, jas hujan yang digunakan juga bersifat degadrable, karena terbuat dari singkong dan kedelai, dengan batas waktu pemakaian selama 3 bulan.

Lalu saat jas hujan “organik” ini dikubur, maka zat-zat yang terurai akan menjadi protein tambahan bagi tanah.

  1. Semua bisa berkontribusi sebagai relawan

Sumber: tim dokumentasi nusantarun/mahfud.achyar

NusantaRun bukan sekedar event lari pada umumnya. Suksesnya event yang rutin diadakan setiap bulan Desember ini tentu tak lepas dari kontribusi 330 relawan yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Semua bergotong royong dengan mengambil peran masing-masing agar apa yang telah direncanakan bisa berjalan dengan lancar.

Tak hanya itu saja, nyatanya semangat #PowerOfContribution juga turut dirasakan oleh siswa-siswi dari SLB 01 Temanggung yang berkontribusi sebagai relawan di garis start.

  1. Syarat sebagai pelari tak sekedar kuat secara fisik dan mental

Sumber: tim dokumentasi nusantarun/pernahlaridibekasi

Untuk dapat berpartisipasi sebagai pelari di NusantaRun, bukan hanya kekuatan fisik dan mental yang diperlukan mengingat jauhnya jarak yang harus ditempuh, tapi juga perlu hati yang tulus. Karena selain berlari, para pelari ini juga diharuskan untuk mengumpulkan donasi untuk para penyandang disabilitas.

Bahkan agar bisa start berlari, ada minimum jumlah donasi yang harus dipenuhi agar dapat melaju di garis start. Kemudian para pelari ini harus berjuang melawan panas terik saat siang, lalu disambut dengan derasnya hujan, bahkan berlari di tengah malam melewati jalan-jalan yang sepi.

Perjuangan ternyata tak berhenti sampai di situ saja, panitia juga memberlakukan sistem COP (Cut Off Point) serta COT (Cut Off Time) di setiap cek point. Penerapan regulasi tersebut bertujuan untuk menjaga keselamatan dan juga keamanan para pelari.

  1. Tangis haru pelari saat disambut anak-anak di garis finish

Sumber: tim dokumentasi nusantarun/mahfud.achyar

Bagi para pelari yang berhasil mencapai garis finish, selain mendapatkan finisher tee, mereka  disambut dengan cheering dari para murid SLB Negeri Gunung Kidul beserta guru-guru dari Guru Belajar Solo, serta mendapatkan merchandise berupa bunga kertas dan gelang karya murid-murid penyandang disabilitas dibawah asuhan Guru Belajar Solo.

Bahkan di half point, cheering dari Guru Belajar Solo beserta Murid SDN Karangwuni menjadi penyemangat untuk terus melaju.

  1. Misi #PendidikanUntukSemua

Dengan target donasi sebesar Rp 2,5 miliar, 100% hasil penggalangan dana akan diperuntukkan bagi program pengembangan anak-anak penyandang disabilitas melalui kitabisa.com/nusantarun, baik itu untuk membangun support system, maupun untuk program beasiswa untuk anak disabilitas, yang bekerja sama dengan Kampus Guru Cikal.

Melalui program tersebut, diharapkan nantinya anak-anak ini dapat menjadi generasi penerus bangsa yang mandiri dan juga berdaya.

Beratnya medan yang ditempuh membuat beberapa pelari tak dapat menyelesaikan misi hingga garis finish, baik itu karena cidera, kelelahan, dehidrasi, serta berbagai sebab lainnya. Apapun hasilnya, para pelari ini telah melakukan yang terbaik.

Meski demikian, perjuangan tak berhenti sampai di situ. Masih ada kilometer-kilometer berikutnya yang harus ditaklukan. Masih ada tangan-tangan yang menunggu pertolongan dari orang-orang baik. Semua dilakukan demi satu tujuan, untuk pendidikan bangsa Indonesia.

Semoga menginspirasi.

 

Photo credit: tim dokumentasi nusantarun/mahfud.achyar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *