Putri Indonesia 2002 sekaligus presenter, Melanie Putria menceritakan beratnya melalui masa baby blues setelah melahirkan putra pertamanya, Sheemar Rahman Puradiredja.

Melanie sempat mengalami preeklamsia atau komplikasi kehamilan. Rasa trauma yang sangat besar membuatnya hampir mengalami postpartum depression (depresi pascamelahirkan).

“Jujur waktu itu aku merasa kayak orang kesurupan. Bukan diri aku, aku enggak tahu diri aku di mana. Sampai segitunya,” kata Melanie seperti dilansir Kompas.com.

Melanie merasa kondisi mental dan emosionalnya sangat rendah saat itu, termasuk saat ia kembali beraktivitas di dunia hiburan. Saat melihat bayinya saat itu, Melanie bahkan merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Padahal, semua informasi soal parenting telah dilahapnya semasa kehamilan. Baca juga: Melanie Putria Daftarkan Anak ke Sekolah Bola Agar Lebih Sporty “Kalau sekarang ingat lagi, kayak “itu dulu kenapa ya”.

Ternyata kata dokter, itu bukan sakit jiwa tapi hormon yang fluktuatif,” ujar Melanie. Di masa-masa terendahnya, Melanie menemukan lari. Ia pertama kali menemukannya lewat media sosial. Melanie saat itu merasa kagum dengan mereka yang hobi lari, karena tampak merasa bahagia dan sehat.

Ia pun mencoba olahraga tersebut meskipun ia tak pernah rajin lari atau mengetahui teknik berlari yang benar sebelumnya.

“Lalu aku cobain lari dan saat itulah aku jatuh cinta. Karena rasa bahagia ketika lari menenggelamkan semua rasa gundah yang muncul ketika baby blues.”

“Sampai hari ini aku merasa larilah yang menyelamatkan aku,” tutur dia.

Melanie pun berbagi sejumlah tips yang bisa dilakukan oleh para ibu jika mengalami baby blues. Hal pertama yang harus dilakukan, kata dia, adalah menerimanya.

“Yang penting tahu dulu dan menerima dulu kalau kita sedang mengalami baby blues.”

“Kadang karena kurangnya informasi, seperti aku dulu, jadi kita enggak tahu apa yang sedang terjadi dengan diri kita,” kata wanita kelahiran 17 April 1982 itu.

Hal kedua adalah pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat, seperti suami, orangtua dan keluarga besar. Dukungan dan informasi mendalam juga harus didapatkan dari tenaga medis.

Menurut dia, para tenaga medis harus bisa menginformasikan bahwa sindrom baby blues adalah sesuatu yang serius dan tidak boleh dianggap enteng. Kehadiran supporting group, menurut dia, juga bisa menjadi alternatif lain untuk memulihkan kondisi ibu yang mengalami baby blues.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *