Sekilas tentang Wido Sardjono

Nama lengkapnya Suwido Sardjono, putra asli Salatiga yang telah menjadi warga negara Jerman sejak tahun 1980 dan menetap di Berlin.

suwido sardjono

Pada ajang Jakarta Marathon 2017 lalu, Pak Wido, sapaan akrabnya, menjadi cerita tersendiri di kalangan pelari tanah air.

Bagaimana tidak, di usia 72 tahun, Pak Wido mampu menyelesaikan kategori full marathon berjarak 42,195 km dengan catatan waktu 6 jam 18 menit. Catatan waktu yang membanggakan, mengingat usia beliau dan juga temperatur panas Jakarta saat lomba akhir Oktober 2017 lalu.

Bagi pelari Indonesia yang pernah mengikuti Berlin Marathon, tentu tidak asing dengan sosok yang satu ini. Beliau sering menyambut pelari-pelari Indonesia yang mengikuti ajang tersebut.

Bahkan di tahun 2017 ini, Pak Wido diminta oleh Fauzi Bowo, dubes Indonesia di Jerman, untuk menyambut para pelari Indonesia di Berlin Marathon. Menetap di Berlin sejak tahun 1965, Pak Wido adalah sosok yang paling tepat untuk menjalankan tugas tersebut.

Petikan wawancara dengan Wido Sardjono

Tim Bugaraga beruntung mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang bersama Pak Wido di sela-sela kunjungannya di Jakarta selepas ajang Jakarta Marathon 2017 lalu. Pembawaannya yang ramah dan terbuka membawa percakapan kami berjalan dengan menyenangkan.

Berikut petikan wawancara dengan Pak Wido, semoga bisa menjadi inspirasi dan menambah motivasi bagi para penggiat olahraga lari di Indonesia.

Sejak kapan Pak Wido mulai mengenal lari? Dan mengapa memilih lari sebagai olahraga utama?

Saya mulai berlari pada tahun 2000, saat itu usia saya sudah 55 tahun. Saya tidak punya dasar olahraga apapun, hanya terinspirasi dari beberapa teman yang sering berlari di Berlin. Kemudian saya coba untuk ikut berlari.

Motivasi saya hanya ingin sehat, tanpa ada target ataupun tujuan apapun dalam berlari. Dan akhirnya saya mulai terbiasa dan menikmati olahraga ini.

Seberapa sering Bapak berlari? Dan apa yang dirasakan setelah berlari?

Saya berlari 3-4 kali dalam seminggu. Tidak jauh-jauh, cukup 5 km saja. Efeknya sangat terasa pada tubuh saya. Dulu saya selalu jatuh sakit menjelang musim dingin, kadang 2-3 minggu baru bisa sembuh. Setelah berlari secara rutin, ritual sakit itu hilang dengan sendirinya.

Kalau sekarang saya berlari lebih jauh. Setiap kali berlari saya menempuh jarak antara 12 sampai 21 km. Badan lebih segar. Justru jadi aneh rasanya jika badan tidak dibawa berlari.

Kapan Bapak mulai mencoba berpartisipasi dalam turnamen lari?

Turnamen lari saya yang pertama adalah Berlin Half Marathon, April 2005. Jadi 5 tahun setelah berlari secara rutin baru saya memutuskan untuk mencoba mengikuti turnamen. Sebulan sesudahnya saya mengikuti Big 25 Berlin, sebuah turnamen lari dengan jarak 25km.

Dan kemudian puncaknya, Berlin Marathon kategori full marathon di bulan September 2005. Ini adalah full marathon pertama saya, dan sejak saat itu saya tidak pernah absen berpartisipasi dalam ajang ini.

Setiap tahun Bapak selalu ikut Berlin Marathon sejak 2005?

Yes, betul. Kenapa saya selalu ikut? Karena begitu┬ákeluar pintu rumah sudah langsung lokasi lomba, hahaha… Berlin Marathon 2017 adalah keikutsetaan saya yang ke 13, secara berturut-turut.

Dan saat menyelesaikan Berlin Marathon yang ke 10, saya dimasukkan sebagai anggota Jubilee Club. Jadinya setiap tahun saya tidak perlu lagi mendaftar untuk ikut Berlin Marathon. Dan ada nomor BIB khusus, 3785, yang menjadi milik saya setiap tahunnya.

Dengan berdomisili di Eropa, tentu banyak turnamen lari yang bisa diikuti. Turnamen apa saja yang biasa Bapak ikuti setiap tahun?

Justru saya jarang ikutan turnamen lari, hahaha… Setiap tahun saya cuma mengikuti 2 turnamen, semuanya di Berlin: Berlin Half Marathon dan Berlin Marathon. Selain itu ya latihan sendiri saja, lari rutin 3-4 kali seminggu.

Sejak 2013 saya juga mulai mengikuti Jakarta Marathon. Saya selalu datang 2 tahun sekali. Jakarta Marathon 2017 ini adalah partisipasi saya yang ketiga.

Bagaimana kesan Bapak terhadap Jakarta Marathon setelah 3 kali ikut serta?

Harus diakui bahwa standar penyelenggaran Jakarta Marathon masih jauh jika dibandingkan dengan Berlin Marathon. Tapi saya selalu menikmati turnamen ini. Saya selalu rindu untuk berlari di tanah air sendiri.

Apalagi ajang Jakarta Marathon selalu unik, banyak komunitas yang siap membantu pelari di sepanjang jalur lari. Ini adalah warna tersendiri dari Jakarta Marathon.

Komunitas pelari Indonesia pertama yang saya kontak adalah Indorunners. Waktu itu saya mencari keyword pelari Indonesia, dan ketemulah halaman Facebook mereka.

Di mata saya, istilah Indorunners adalah pelari Indonesia, dan saya sangat senang bisa berlari bersama dengan semua pelari dari seluruh Indonesia.

Di Jakarta Marathon kemarin banyak pelari yang saya kenal, dari beragam komunitas. Terutama mereka yang pernah ikut Berlin Marathon. Saya selalu senang menyambut sesama pelari Indonesia di Berlin.

Berapa pencapaian waktu terbaik Bapak selama ini?

Sebenarnya saya itu berlari tidak mengejar personal best, yang penting olahraga dan senang saja. Kebetulan waktu tercepat saya di ajang Berlin Marathon adalah 4 jam 47 menit, yang saya capai di tahun 2014 lalu.

Tapi beda ya lari di Berlin dan di Jakarta. Di Berlin jalurnya rata, dan suhunya separuhnya Jakarta Marathon. Saya juga masih mampu menempuh jarak 10K dengan waktu di bawah 1 jam, biasanya sekitar 55 menit.

Dengan usia 72 tahun saat ini, tentu banyak yang penasaran bagaimana Bapak bisa mempertahankan kesehatan sehingga setiap tahun selalu bisa menyelesaikan kategori full marathon dengan baik. Ada tips-tips khusus yang bisa dibagikan?

Buat saya hal yang terpenting adalah disipilin. Selama 17 tahun saya memaksa diri saya untuk disiplin berlatih lari minimal 3 kali dalam seminggu. Ini hal yang berat, namun akan menjadi kebiasaan positif setelah dijalankan.

Hal penting kedua, menjaga makanan dan minuman. Saya tidak membatasi diri dengan diet ketat atau mengikuti menu-menu tertentu. Biasa saja, tapi dijaga.

Saya biasa menikmati sarapan setelah lari pagi berupa sereal dan susu, ditambah roti, buah dan air putih. Untuk makan malam menunya berupa salad dengan minyak zaitun, steak dan kentang.

Terkadang setelah berlari dengan jarak jauh, bir menjadi minuman pelepas lelah yang paling mujarab, hahaha…

Hal penting ketiga, jangan lupa untuk memperkuat tubuh bagian atas. Setiap hari yang namanya push up, sit up dan pull up adalah menu yang harus dilahap. Berlari bukan hanya olahraga kaki lho.

Ada pesan lain untuk pelari di Indonesia, khususnya yang masih berusia muda dan bersemangat dalam berlatih?

Sekedar sharing saja, buat saya lari adalah olahraga yang menyenangkan dan harus dinikmati. Usia bukan alasan untuk tidak berolahraga.

Jangan terlalu ngotot untuk mencapai waktu terbaik atau rekor tertentu. Tidak salah untuk mencapai waktu terbaik, tapi mulailah dengan bertahap. Intinya kenali tubuh kita, kenali kemampuan kita.

Saya bersukur sekali dengan metode latihan yang saya terapkan, sampai saat ini saya belum pernah sekalipun menderita cedera. Bahkan lecet pun tidak pernah, hahaha…

=======

Terima kasih Pak Wido. Sehat selalu dan tetap menginspirasi lewat olahraga lari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *