half marathon

BUGARAGA.COM – Lari sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat ibu kota. Bukan hanya lari jarak menengah, lari jarak jauh bahkan maraton sudah jamak dilakukan para penggiat lari yang bukan atlet profesional.

Untuk itu, perlu tips dan kiat khusus bagi para peserta amatir agar bisa tampil maksimal saat ikut serta dalam lomba.

Ingat, jika belum terbiasa dengan lari dengan jarak tempuh yang lebih pendek, jangan paksakan untuk mencoba lari 42 kilometer.

Untuk itu, perlu persiapan matang ketika akan melakukan lari maraton. Latihan rutin harus dilakukan.

Tips dari Gatot Sudarsono, pelatih beberapa peserta lari, pernah berbagi tips kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Menurut dia, latihan itu penting. Hal penting lain, tak ada yang instan ketika melakukan sesuatu, apalagi lari jarak jauh.

Berikut penjelasan Gatot sekaligus mengungkap fakta di balik latihan lari yang tepat:

Latihan rutin 30 menit hingga dua jam

Untuk bisa mendapatkan banyak manfaat lari, cukup latihan rutin 30 menit hingga maksimal dua jam.

Namun, latihan ini tak bisa sembarangan, karena harus terprogram jika ingin mendapatkan manfaat maksimal.

Menjalani program inilah yang menjadi tantangan sekaligus menuntut komitmen dari

Lihat kondisi

Program latihan lari juga bergantung kondisi, kebutuhan, kemampuan, serta tujuan si pelari.

Tak ada program yang sifatnya mutlak. Selain itu, program latihan lari juga perlu diperbarui dalam jangka waktu tertentu.

Artinya, untuk mendapatkan manfaat maksimal dari lari, Anda tak bisa sekadar lari mengelilingi lapangan misalnya.

 Lari, bukan jalan cepat

Saat Anda lari, jangan pernah mencampurkan latihan dengan jalan kaki.

Lari yang dicampur dengan jalan kaki menimbulkan sejumlah risiko. Utamanya melemahkan kekuatan otot.

Padahal, jika kekuatan otot meningkat, kecepatan lari pun bisa bertambah karena jantung dan paru-paru juga meningkat kekuatannya.

Dampak positif lainnya jika kekuatan otot meningkat adalah saat lari Anda tidak merasakan nafas terengah-engah.

Beban tubuh pun menjadi tidak seberat kalau Anda mencampur lari dengan jalan kaki.

Kecepatan stabil

Karenanya, saat lari baik latihan jelang lomba atau olahraga rutin, tetaplah konsisten berlari bukan mengombinasikan dengan jalan kaki.

Jika Anda mengganti lari dengan jalan kaki, apalagi jika berhenti berlari, suhu tubuh menjadi dingin. Anda butuh energi lebih besar untuk memulai lari dari nol.

Nah, bagaimana bisa Anda mencapai tujuan dari olahraga lari, jika di tengah perjalanan muncul rasa malas.

Lari pun tak bisa memberikan manfaat maksimalnya karena rasa malas sudah melanda.

Alhasil, harapan memiliki tubuh bugar apalagi niatan menurunkan berat badan, akan semakin sulit tercapai.

Jangan percaya latihan instan

Kalau Anda berminat mengikuti berbagai ajang road run, lakukan latihan yang terprogram dengan trainer, bukan yang instan lewat tutorial di internet.

Banyak pelari yang salah kaprah saat memulai program latihan. Terutama saat menyiapkan diri untuk mengikuti lari 10K misalnya.

Banyak pelari yang mengandalkan program instan yang bisa didapatkan lewat internet.

Gatot menjelaskan, kalau latihan dengan membuka internet, kita tidak bisa tahu kemampuan fisik sejauh mana.

Sementara kalau latihan terprogram sesuai kebutuhan dan kondisi dengan bantuan instruktur, kita bisa mengukur kemampuan diri.

Kesalahan yang umum terjadi saat latihan dengan program instan di internet adalah seseorang latihan tak sesuai kemampuan.

Atau dengan kata lain dipaksakan latihan padahal tubuhnya tak mampu menjalani pola latihan tersebut.

Latihan bersama instruktur

Latihan bersama instruktur bukan hanya bisa merancang program dengan melihat kemampuan tapi juga melihat sisi psikologis, kesehatan fisik, bahkan makanan.

Agar hasilnya maksimal, Gatot menyarankan sebaiknya cari trainer yang memahami anatomi tubuh. Lagi-lagi, ini diperlukan untuk mencegah terjadinya cedera.

Latihan tepat cegah cedera

Program latihan lari yang tepat bukan hanya membantu mencapai garis finis dengan catatan waktu yang baik, namun juga bisa mengurangi risiko cedera setelah lari.

Karenanya, Gatot menyarankan untuk tidak memaksakan diri mengikuti marathon jika tak menyiapkan diri dengan baik lewat latihan tepat.

Kalau dipaksakan mencapai garis finis, otot bisa cedera dan tidak pulih setelah berhari-hari pascalomba, lalu merasa sakit di bagian tertentu terutama kaki, bahkan bisa sakit hampir di semua bagian tubuh.

Pola latihan yang keliru bisa menyebabkan cedera hingga berbulan-bulan. Akibatnya, aktivitas harian pun terganggu, kesakitan saat naik turun tangga, dan rasa sakit ini tidak kunjung hilang.

Lebih efektif hasilnya pada wanita
Gatot menambahkan melalui olahraga lari sebenarnya perempuan bisa mendapatkan lebih banyak manfaat. Kalau punya komitmen keras, bukan hanya prestasi yang bisa lebih cepat didapat.

Manfaat olahraga lari juga bisa lebih cepat terlihat pada perempuan.

 

One thought on “Tips Persiapan Maraton biar Maksimal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *