Berlari bukan cuma di atas aspal. Berolahraga melintasi alam bebas pun seru dan menantang adrenalin.

Belakangan, sudah banyak event lari yang menawarkan alam sebagai lintasan. Peminatnya pun banyak.

Anda tertarik mencoba?

Pada dasarnya, Anda harus menyiapkan peralatan dengan baik sebelum berlari melintasi alam. Medan, kondisi, dan cuaca yang ditemui bisa berubah dan pelari mesti siap menghadapinya.

Seperti dikutip dari Runner.id, Ruth Theresia yang merupakan pelari ultra maratoh Indonesia berbagi apa saja yang disiapkannya sebelum lari lintas alam.

1. Vest
“Ini peralatan wajib saya. Di dalam vest, saya bisa menyimpan minuman, makanan ringan, hingga jaket.”

Ada vest yang di dalamnya sudah ada water bladder dan ada yang belum. Pilih yang sesuai preferensi.

2. Makanan ringan
“Kita mesti memperhatikan nutrisi saat berlari. Siapkan makanan ringan yang mudah dilahap, misalnya roti, energy gel, jeruk, atau pisang. Ingat, belum tentu ada warung di tengah gunung, apalagi bila jarak lari kita jauh.”

3. Head lamp
Bermanfaat bila lari dalam keadaan gelap, terutama bila lari ke dalam hutan.

“Ada kalanya saya baru mulai latihan pada sore hari. Dengan demikian saya pasti butuh head lamp.”

4. Peralatan medis pribadi
“Gel pereda nyeri wajib saya bawa. Efektif membantu mengatasi kram atau pegal otot. Ada teman yang wajib membawa obat maag atau obat sakit kepala. Beda orang beda keluhan. Karena itu bawa sesuai kebutuhan.”

5. Pakaian
Disarankan memakai yang berbahan nyaman dan cepat kering.

“Favorit saya adalah celana pendek dan kaos berlengan. Saya menghindari memakai kaos tanpa lengan karena saya tidak tahan cuaca dingin.“

Kalau kurang nyaman dengan celana pendek, misalnya untuk mengantisipasi lecet atau tergores, bisa kenakan legging panjang.

6. Sepatu
Pastikan sepatu yang dikenakan memang cocok untuk medan lintas alam.

“Saat ini saya memakai Hoka One One Challenger ATR 3 dan Hoka One One Speedgoat. Challenger ATR 3 saya pakai untuk lari ultra trail. Bantalanya empuk dan cocok di segala medan. Toe box-nya besar, sehingga kaki saya tidak pernah lecet (blister) lagi. Kuku juga tidak nyeri lagi saat lari di turunan. Saya memakainya dalam tiga lomba lari ultra trail tahun ini dan semuanya tanpa masalah.”

“Sedangkan Speedgoat, saya pakai untuk lomba lari di gunung dengan jarak di bawah 42 kilometer. Medan di gunung sifatnya lebih teknis, isinya ‘hanya’ tanjakan dan turunan. Karena itu saya butuh sepatu yang bisa mencengkeram medan dengan mantap. Dan Speedgoat adalah jawabannya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *