Sebagian besar masyarakat mulai dari remaja, dewasa, hingga manusia lanjut usia (manula) kerap kali mengalami kelupaan terhadap suatu hal. Untuk itu, terkadang dari kita mencoba mencari jalan keluar guna meminimalisir penyakit lupa. Ragam cara seperti membaca koran, majalah, media online, dan sebagainya dilakukan.

Akan tetapi, di sisi lain, Jogging atau berlari pelan ternyata dapat memperkuat ingatan seseorang. Hal ini berkaitan dengan temuan bahwa berlari dapat memperkuat sinyal-sinyal dalam otak.

Seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (26/5/2018), berolahraga telah lama diketahui dapat mengatasi stres. Namun, penelitian yang dilakukan Brigham Young University, Utah, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa aktivitas itu juga ternyata dapat mengatasi lupa.

Peneliti menemukan bahwa berlari dapat membantu melindungi hippocampus atau bagian otak yang bertanggungjawab atas proses belajar dan ingatan, dari efek negatif stres.

Dalam hippocampus, pembentukan memori dan daya ingat bekerja paling baik saat hubungan antara neuron, yang disebut sinapsis, diperkuat seiring berjalannya waktu. Proses ini disebut dengan long-term potentiation (LTP).

Menurut survei yang dilakukan oleh Anxiety and Depression Association of America, 7 dari 10 orang dewasa mengalami stres atau gelisah setiap hari. Hal itu terjadi dengan ragam permasalahan yang dialami mereka, di antaranya kesepian, pertengkaran, dan sebagainya.

Stres kronis atau berkepanjangan ini kemudian dapat melemahkan sinapsis dan proses LTP ini. Sehingga berdampak buruk pada ingatan seseorang.

Oleh karena itu, Jeff Edwards, profesor Fisiologi dan Biologi Perkembangan, menyarankan orang-orang untuk sering berlatih fisik. Cara ini dapat meningkatkan proses belajar dan ingatan mereka. Adapun cara tersebut memang bertujuan guna meminimalisir penyakit lupa yang dialami seseorang, khususnya anak muda.

“Kita memang tidak bisa mengontrol rasa stres karena permasalahan selalu ada saja setiap hari. Emosi diri pun timbul, dan seharusnya tidak kita keluarkan semua rasa emosi itu. Tetapi kita tentu bisa mengontrol seberapa sering kita berolahraga,” katanya menjelaskan.

Ini mendukung untuk mengetahui bahwa kita dapat melawan dampak negatif stres pada otak kita hanya dengan keluar dan berlari. Dengan olahraga lari, perasaan Anda akan lebih senang dan proses berpikir dalam otak menjadi lebih jernih.”

Menguji Tikus

Untuk mempelajari hubungan antara ingatan, stres dan olahraga, peneliti melakukan penelitian terhadap tikus.

Mereka membagi tikus ke dalam empat kelompok: yang diam dan tidak stres, berolahraga tapi tidak stres, berolahraga tapi stres, serta diam dan mengalami stres.

Tikus-tikus tersebut dibuat stres dengan situasi tertentu, seperti dipaksa berjalan di atas panggung yang tinggi atau berenang dalam air dingin. Setelah tikuts-tikus tersebut stres, beberapa dari mereka dipaksa berlari di roda berputar, sesuai dengan pengelompokkannya.

Terbukti Efektif

Peneliti menggunakan elektrofisiologi untuk menghitung LTP dalam otak tikus-tikus tersebut. Hasilnya, mereka menemukan bahwa tikus-tikus yang stres dan berlari di roda memiliki tingkat LTP yang lebih tinggi dibandingkan dengan tikus-tikus stres yang tidak berlari di roda.

Selain itu, peneliti juga menggunakan percobaan labirin untuk menguji ingatan tikus. Tikus-tikus stres yang berlari di roda ternyata bisa melewati labirin ini sebaik tikus-tikus tidak stres yang berlari di roda juga.

Penemuan ini menunjukkan bahwa berlari adalah cara yang efektif untuk melindungi mekanisme belajar dan ingatan kita dari dampak kognitif negatif yang didapat dari stres pada otak kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *