Ada dua jenis ekspresi setelah melewati garis finish: ekspresi senang dan ekspresi kecewa. Dalam sebuah ajang lomba lari, yang terlibat bukan hanya pelari profesional, banyak juga recreational runner yang juga bersemangat untuk mencetak personal best (PB) maupun untuk sekadar berlari santai.

Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon (SCKLM) merupakan event lari tahunan di Malaysia yang sudah ada sejak tahun 2011 dengan pilihan jarak untuk dewasa adalah 5km Fun Run, 10km Competitive Run, 21.1km Half Marathon, dan 42.2km Full Marathon. Untuk anak di bawah 12 tahun juga dapat mengikuti event ini di kategori Kid Dash. Terdapat total 36.000 peserta dari semua kategori dan 7.000 orang yang mendaftarkan diri khusus untuk kategori full marathon (FM). Jumlah yang luar biasa, kan?

Harapan semua pelari bisa finish strong. Bahkan ada yang tidak cukup hanya sekadar bisa tamat, tapi harus memiliki catatan waktu yang baik. Tapi banyak juga yang merasa rugi kalau lari terlalu serius. Mereka ingin menikmati lari sekaligus berekreasi dan menambah catatan pengalaman hidupnya. “Masa jauh-jauh ke Kuala Lumpur tapi finish-nya kecepetan?” kata seorang peserta kategori FM wanita asal Indonesia yang rajin mengikuti race jarak jauh.

Para peserta yang berusaha mengejar target waktu pribadinya

Waktu tidak berpengaruh pada ekspresi apa yang keluar setelah melintasi garis finish. Yang membedakan adalah target yang dibuat oleh masing-masing pelari. Ditambah apa yang dialami selama perjalanan. Yang mengalami cedera pastinya tidak sesumringah yang sepanjang perjalanannya lancar jaya.

Saat saya mencapai garis finish, saya merasa senang luar biasa karena ini adalah lomba FM pertama yang diikuti. Untuk seorang pemula, bisa menempuh 42.2km tanpa cedera dan waktu yang tidak terlalu bikin malu adalah prestasi. Walaupun prestasi ini hanya diakui oleh diri saya sendiri. Dengan waktu finish yang hampir sama (bahkan lebih cepat beberapa menit), ada juga yang merasa kecewa karena waktu finish-nya merosot jauh dari catatan waktu race FM sebelumnya. Ini semua perihal target.

MENANTANG KARENA TANJAKAN

Acara lomba lari yang diorganisir oleh Dirigo Events rupanya dianggap salah satu event lari yang menantang, terutama untuk kategori FM. Sepanjang 42.2km para pelari harus berlari mengikuti jalur yang menanjak dan menurun. Lumayan menguras stamina.

Hendri Pardede dari Run For Indonesia yang mendapat ranking 68 kategori FM Men Veteran menuliskan curhatannya di akun facebook-nya: “Rute KL Marathon yang banyak naik turun membuat kondisi sangat cape, apalagi tanjakannya. Kapok. Cukup satu kali aja ikut KL marathon. Bukan waktu terbaik tapi bisa finish strong. Lumayan, ranking 68.”

Ekspresi Hendri Pardede setelah menamatkan full marathon di SCKLM 2017

Pelari Indonesia memang lumayan banyak yang berangkat ke Kuala Lumpur untuk mengikuti lomba lari ini. Bahkan dari merah putih yang melekat di jersey-nya saja cukup mendefinisikan dari mana dia berasal. Selain Indonesia, event ini juga diikuti pelari lain dari Singapura, Thailand, dan negara Asia lainnya.

Chew Chee Ming, pelari dari Tiongkok ikut mengekspresikan hasil larinya di SCKLM di akun facebook-nya: “Done with SCKLM 2017! Quite happy that i PB-ed. The last 8km was quite though, the hills really drain you. The last time I ran a marathon distance on the road was 2014, also SCKLM. Really have to respect the distance!”

Hendri Pardede finish FM SCKLM dengan waktu 04:23:43 dan Chew Chee Ming memiliki waku 03:48:11. Keduanya mengakui tantangannya adalah tanjakan. Saya juga banyak bertemu dengan banyak pelari di sekitar refreshment dan dari mereka mencurahkan hal yang sama. Walaupun semua berlari di jarak dan jalur yang sama, setiap orang memiliki ekspresi yang variatif. Dalam kelelahan yang luar biasa, jika memang hasil waktunya sesuai target pastinya tetap mudah mengumbar senyum.

Meskipun diakui memiliki rute yang cukup menantang, SCKLM 2017 ini terorganisir dengan baik. Para pelari dapat menjumpai water station setiap 2km. Walaupun tidak membawa botol air sendiri, para pelari tetap terhidrasi dengan baik. Tapi sayangnya suhu airnya tidak sedingin yang biasa saya dapatkan kalau mengikuti race besar di Indonesia. Airnya kurang dingin, bahkan ada yang sudah tidak dingin sama sekali.

Untuk minuman isotiknya pun tidak semuanya bisa beradaptasi. Saya sempat kaget dengan rasa asamnya. Mungkin juga karena belum terbiasa karena berbeda dengan minuman isotonik yang biasa disediakan di event lari yang biasa diikuti di Indonesia. Maklum, saya memang sebelumya hanya mengikuti race lokal. SCKLM adalah race pertama dan FM pertama yang harus memakai passport.

Tapi salut dengan volunteer yang menjadi cheer leader. Mereka bersemangat untuk menyemangati para pelari. Bahkan saya sempat mendapat kurma dan permen. Suatu race akan lebih berkesan jika masyarakat di sekitarnya juga mendukung. Pelari pun aman dari kendaraan yang melintas karena jalanan dibuat steril.

Para volunteer di salah satu water station SCKLM 2017

Dalam perjalanan 42.2km, salah satu momen terindah adalah ketika melihat langit mulai bersemu terang. Hamparan langit kebiruan dengan sentuhan pantulan cahaya dari matahari yang masih kemerahan ini begitu enak dilihat. Penghiburan mata dari tubuh yang sedang letih-letihnya.

Menikmati sunrise dalam medan ketinggian di atas jalan tol sambil berlari lumayan menjadi experience yang menyenangkan. Para pelari dapat melihat pemandangan gedung bertingkat di pagi hari dalam sudut pandang yang berbeda. Mungkin ini keunikan yang ingin  disajikan oleh penyelenggara. Biarpun sebenarnya bisa sering kita rasakan juga setiap hari, tapi dari balik kaca mobil.

EKSPRESI BAHAGIA MENDOMINASI PASCA FINISH

Finish line yang dinanti-nanti

Untuk kategori FM start dimulai pukul 4.00 pagi. Saya suka event yang berlangsung dengan tepat waktu, terlebih dimulai dari sangat pagi. Karena tidak semua pelari dapat menamatkan maratonnya di bawah 4 jam, termasuk saya sendiri. Terik matahari dan lari di atas jembatan layang bukan pasangan yang menyenangkan, bukan?

Untuk mengikuti race memang harus berbekal latihan. Apalagi jika harus menempuh jarak yang panjang, tidak mungkin berhasil dengan hanya modal nekat. Jika latihannya tepat dan disiplin, saya rasa setiap pelari sudah lebih siap untuk menghadapi perjalanan apapun tantangannya.

Sesantai apapun kamu berlari, kenyamanan tetap penting. Ketidaksiapan dapat memancing masalah-masalah dalam berlari, salah satunya adalah cedera. Cedera membuat pelari kepayahan dalam menggapai papan jarak terakhir. Ini juga yang memancing wajah kecut saat berlari.

Aneka ekspresi dari Run For Indonesia setelah berhasil mendapat medali SCKLM 2017 (Photo Credit: Agus Hermawan)

Apapun kesulitan yang dihadapi, jika berhasil menginjak chiptime terakhir tetap akan menyisakan kebahagiaan. Walaupun SCKLM 2017 ini dianggap sebagai race dengan rute yang menantang, tapi acara berjalan dengan rapi. Memang saya mendapati peserta lain yang masih jalan tergopoh-gopoh karena cedera yang dialami, tapi tetap dapat tersenyum saat foto bersama medali yang didapatkan. The race is over and time to wefie!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *