Pukul 4.30 pagi di 30 Juli 2017. Udara dingin kota Bandung terasa menusuk kulit. Meski langit masih gelap dan udaranya seolah mengajak untuk tetap di balik selimut, halaman Gedung Sate sudah dipadati 6.500 pelari dari seluruh Indonesia. Berbagai pelari hadir, dari pelari profesional hingga pelari-pelari rekreasi.

Pocari Sweat Bandung West Java Marathon (PSBM) rupanya banyak diminati para pelari. Kota Bandung dan kesejukannya menjadi magnet pelari lokal maupun mancanegara untuk mengikuti event lari ini. Atlet nasional Agus Prayogo, dan sejumlah celebrity runners seperti Melanie Putria, Jennifer Bachdim dan Haruka Nakagawa turun di Pocari Sweat Bandung West Java Marathon.

Seperti pada umumnya ajang lomba lari, ada hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang dialami para pelari. Meski dianggap cukup menantang karena harus bersahabat dengan tanjakan dan turunan, banyak juga pelari yang mencetak Personal Best (catatan waktu terbaik).

5 HAL YANG ASIK DI POCARI SWEAT BANDUNG MARATHON

#1 Air Minum yang Melimpah

Salah satu hal paling penting saat berlari adalah menjaga tubuh untuk tidak dehidrasi. Untuk itu biasanya para pelari bisa menemui water station di setiap 2,5K. Dalam race course map, dari km 1-10  disediakan water station setiap jarak 2,5K. dari km 10-20 terdapat water station setiap jarak 2K. dari km 20-42K disediakan water station setiap jarak 1,5K.

Buat yang tidak terlalu tahan terlalu banyak minum minuman isotonik, panitia menyediakan air putih di setiap water station. Di beberapa titik disedikan juga pisang untuk para pelari yang mungkin kelaparan dan membutuhkan tambahan sumber tenaga.

#2 Udara yang Sejuk

Dibanding Jakarta, Bandung memang dikenal lebih sejuk. Apalagi ketika hari masih pagi dan belum banyak kendaraan yang melintas. Udara yang sejuk menambah kenyamanan dalam berlari. Kesejukan kota Bandung menjadi alasan utama mengapa banyak pelari ingin memperbaiki waktunya di ibu kota Jawa Barat ini.

#3 Berlari sambil Berwisata di Kota Bandung

PSBM mengusung konsep sport tourism, dimana melalui konsep ini Pocari Sweat ingin memadukan  olahraga dengan aspek wisata di wilayah di mana acara ini diselenggarakan. Tentunya dengan tetap memberikan edukasi akan pentingnya pemahaman dan penerapan #SAFERUNNING kepada masyarakat.

Bersama pemerintah provinsi Jawa Barat dan pemerintah kota Bandung, Pocari Sweat menentukan rute lari yang melewati area yang menjadi landmark kota Bandung. Selain itu, PSBM juga menampilkan berbagai kesenian khas Jawa Barat seperti rampak gendang, tari Merak, dan musik angklung.

Salah satu lokasi favorit bagi pelari kategori 42,2K (Full Marathon) dan 21,1 (Half Marathon) adalah saat berada di atas fly over. Pemandangan di atas jembatan dan di bawah langit yang antara terang dan bersemu sungguh memanjakan mata.

Lokasi lainnya adalah ketika berada di wilayah Braga. Nuansa vintage menarik untuk dijadikan ajang berfoto. Gedung di kanan kiri membuat jalur itu terasa teduh. Dengan berlari di event ini, pelari bisa lebih mengenal lagi pusat kota Bandung. Biarpun dengan cara berlari.

#4 Kaos dan Medali yang Menarik

Medali adalah tanda bahwa pelari telah menamatkan perjuangannya mencapai garis finish. Tidak heran banyak yang rajin mengikuti ajang lomba lari hanya untuk menambahkan koleksi medalinya. Walaupun ada beberapa yang menganggap medali adalah hal yang biasa, banyak juga yang sangat memperhatikan detail suatu medali.

Yang membuat PSBM ini berkesan adalah penyelenggara sangat memperhatikan kualitas dari suatu medali. Bukan hanya untuk kategori Full Marathon, kategori lainnya pun memiliki kualitas medali yang sama. Ini yang membuat para penamat Half Marathon, 10k, dan 5K merasakan kebanggan yang sama seperti penamat Full Marathon. Tidak merasa terdiskriminasi.

Selain medali, salah satu yang membuat PSBM ini menyenangkan adalah kaos lari yang berkualitas. Walaupun berbeda dengan tahun sebelumnya, kaos lari yang diberikan tetap memiliki kualitas yang bagus dan brand sudah ternama. Khusus kategori Full Marathon, terdapat finisher tee untuk semua penamat.

5 HAL YANG TIDAK ASIK DI POCARI SWEAT BANDUNG MARATHON

 #1 Banyak Jalur Menanjak

Untuk yang terbiasa berlari di jalur yang rata, mungkin harus bekerja lebih keras lagi untuk menghadapi tanjakan. Arif Aprianto, salah satu Pacer di kategori Half Marathon menganggap jalur yang menantang berawal dari tanjakan fly over di km 6 dan tanjakan berbentuk U Turn menjelang km 12. Yang membuat jalur itu menantang karena panjangnya jarak tanjakan. “Setelah itu tanjakan halus menjelang finish karena tenaga mulai habis.” Lanjutnya.

Tapi di suatu ajang lomba lari, seharusnya para peserta sudah menyiapkan fisiknya untuk menghadapi jalur menanjak dan menurun. Bagi yang sudah terbiasa, jalur menanjak sudah bukan menjadi hal yang ditakutkan.

“Oke sih. Gak parah-parah amat. Mungkin karena habis ikut BSM (Bogor Sundown Marathon) jadi track yang ini better, hehe..” Kata Soehendro Kosasih setelah mendapatkan Personal Best untuk kategori Full Marathon dengan waktu 03:56:08. Soehendro mendapat peringkat ke-23 dari 1121 peserta yang mengikuti PSBM kategori Full Marathon.

#2 Pengendara yang Tidak Bersahabat

Untuk ajang lomba lari PSBM, beberapa area di kota Bandung ditutup untuk dijadikan jalur lari. Pengumuman sudah disosialisasikan dari satu minggu sebelumnya. Marshall dan aparat diturunkan untuk menjaga jalur untuk pelari.

Sayangnya masih ada saja pengendara yang tidak mengikuti aturan. Ada beberapa kendaraan bermotor yang tetap berusaha menerobos jalur yang sudah ditutup. Selain itu pelari juga disambut dengan suara klakson mobil yang tidak sabar untuk melintasi jalur yang ditututp sementara. Padahal sudah disosialisasikan untuk penutupan jalan. Dan ini adalah acara lari yang hanya ada satu tahun sekali.

#3 Jalur  Lari yang tidak Steril

Menutup jalan di kota yang sangat padat dengan kendaraan pada akhir pekan memang bukan pekerjaan yang mudah. Meskipun sudah ada beberapa jalur yang ditutup, tetapi banyak juga jalur yang membuat para pelari harus berbagi jalan dengan para pengendara mobil dan motor.

Selain harus lebih hati-hati, polusi dari asap kendaraan adalah efek yang ditimbulkan jika jalur lari harus berbagi dengan kendaraan. Berlari dengan udara yang kotor tentunya membuat tidak nyaman.

“Kalau sudah turunan, itu motor pada gak sabaran menyerobot dan klakson-klakson gitu. Jadinya ya sama aja. Malah kita yang ngalah daripada ditabrak.” Kata Mario yang sedang memecahkan Full Marathon Pertamanya di PSBM ini.

#4 Tidak Seteduh yang Dibayangkan

Bandung memang kota yang dikenal sejuk. Akan tetapi jika sudah menjelang siang, terik matahari mulai terasa membakar ubun-ubun kepala. Mungkin bagi pelari dengan kategori jarak 5K, 10K, dan 21K belum terlalu begitu panas.

Untuk kategori Full Marathon, hari yang semakin siang menjadi suatu tantangan. Selain masalah teriknya matahari yang membakar ubun-ubun kepala, semakin siang semakin banyak jalur lari yang sudah dipadati kendaraan beroda dua dan empat.

Untuk ajang lomba lari yang menjadikan Full Marathon menjadi salah satu kategori yang diperlombakan, mulainya acara memang terasa kurang pagi. Kategori Full Marathon dimulai pukul 5.15 pagi dan Half Marathon dimulai pukul 5.45 pagi.

Jika dibandingkan dengan event lari marathon yang lainnya, waktu flag-off PSBM ini memang lebih siang. Beberapa pelari merasa panitia kurang mempertimbangkan waktu untuk yang berjarak jauh (Half Marathon dan Full Marathon). Jika dimulai sekitar 30 menit atau 45 menit lebih pagi, tentu terasa lebih teduh dan nyaman.

#5 Signage yang Tidak Sesuai

Di PSBM kemarin, terdapat beberapa peletakan papan petunjuk kilometer yang tidak sesuai. Walaupun ini hal yang minor bagi yang memakai GPS sendiri, tetapi lumayan berarti untuk para pelari yang benar-benar bergantung dari petunjuk kilometer. Tetapi ketidaksesuaiannya hanya di beberapa titik. Jarak kilometer secara keseluruhannya dinilai pas. Tidak kurang dan tidak lebih.

Secara kesuluruhan PSBM ini berlangsung sangat rapi dan menyenangkan. Setelah garis finish banyak hiburan dan makanan untuk para pelari.

Dalam PSBM kemarin telah terpilih beberapa pemenang dari masing-masing kategori:

Kategori 5K

Pria

Juara 1: Agus Prayugo

Juara 2: Muhammad Amirullaah

Juara 3: Diker Ariandas

Wanita

Juara 1: Olivia Sadi

Juara 2: Vera Febrianti

Juara 3: Fauziyyah Khanza

Kategori 10K

Pria

Juara 1: Robi Syanturi

Juara 2: William Samuel

Juara 3: Muhammad Abdul Safe

Wanita

Juara 1: Anjarsari Dewi

Juara 2: Novita Andriyani

Juara3: Syifa Amalya

Kategori Half Marathon

Pria

Juara 1: Saiin Alim

Juara 2: Erwin DJ

Juara 3: Mohamad Ishar

Wanita

Juara 1: Odekta Naibaho

Juara 2: Ratna Dewi Susanti

Juara3: DebbyMeylia

Kategori Marathon

Pria

Juara 1: Hamdan Syafril Sayuti

Juara 2: Wiryawan jaya. s

Juara 3: Guntur Perdana

Wanita

Juara 1: Erni Ulatningsih

Juara 2: Rumini

Juara3: Carla Felany

Pelari sejati adalah pelari yang sudah menyiapkan diri sebelum mengikuti ajang lomba lari. Berbagai tantangan berlari akan dapat dilalui jika disiplin dalam menjalani latihan. Selamat untuk semua peserta yang telah melewati garis finish Pocari Sweat Bandung Marathon!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *