Dibenci sekaligus dicintai. Itulah yang kira-kira banyak pelari rasakan pada lomba lari Jakarta Marathon. Tahun ini sudah menginjak edisi ke-5 sejak pertama kali diadakan, yaitu tahun 2013. Karena mengusung First Official International International Marathon in Indonesia jadi mungkin itu lah yang membuat event ini dianggap perlu banyak perbaikan.

Lalu bagaimana kah di Jakarta Marathon 2017 ini?

Untuk pelari yang sudah mengikuti Jakarta Marathon tiap tahun mungkin sudah banyak persiapan menghadapi event ini. Tantangan berlari di kota Jakarta adalah cuaca panas dan jalur yang tidak steril.

Ini juga menjadi bagian wejangan dari para pelari yang sudah berpengalaman di Jakarta Marathon kepada para pelari pemula yang baru ingin menyicip lomba lari ini.

Wejangan ini saya terima juga sebagai orang yang baru pertama kali berlari Full Marathon (FM) di Jakarta Marathon.

Foto: Eni El

“Luar biasa!” itulah yang saya rasakan saat menjalani lari sejauh 42,195K kemarin. Sudah tidak terlalu kaget karena ini kali kedua. Tapi rupanya tetap ada drama dalam setiap race. Sejujurnya berlari marathon kedua ini saya rasakan jauh menderita. Banyak faktor yang membuat penderitaan terasa berlipat, termasuk kesiapan mental dan fisik.

Kita memang tidak bisa menyelesaikan lari marathon hanya dengan modal nekat. Tanpa latihan yang cukup jadinya akan terseok-seok. Apalagi di Jakarta Marathon yang memang penuh dengan tantangan.

START LEBIH CEPAT DARI JADWAL

Pada pagi yang sudah cukup padat, saya masih sibuk swafoto seperti banyak pelari rekreasi lakukan. Mengambil gambar bersama teman-teman di belakang garis start menjadi bagian dari keseruan mengikuti acara lomba lari. Lalu dikejutkan oleh MC yang mengajak para pelari untuk bernyanyi Indonesia Raya padahal masih tersisa 8 menit dari jadwal.

“Mungkin nyanyi dulu baru sambutan-sambutan lagi.” Batin saya kala itu.

Ternyata setelah mengumandangkan lagu kebangsaan Republik Indonesia, MC melakukan count down untuk segera flag-off. Dengan setengah panik saya langsung buru-buru menyalakan GPS di jam. Karena bagi saya hal ini salah satu bagian penting untuk mengetahui jumlah kecepatan, waktu, dan jarak saat berlari.

Untungnya saat dalam hitungan terakhir GPS saya sudah dalam keadaan siap untuk memulai. Kalau kurang beruntung bisa-bisa terlambat untuk menyamai waktu start. Karena pas, saya pun menjadi lebih tenang saat menginjak chip time pertama.

Tapi rupanya masalah waktu start dimajukan ini banyak juga dampaknya. Masih banyak pelari yang belum memasuki posisi belakang start. Ada yang masih mengantri untuk menitipkan barang di penitipan dan juga ada yang masih mengantri di toilet.

Saat memasuki race central saya melihat antrian drop-bag yang begitu panjang. Rupaya tempat penitipan ini baru dibuka pada pukul 4. Dan sebelum pukul 3 para peserta Jakarta Marathon belum bisa memasuki area race central.

Panik.

Ini lah yang terjadi jika waktu start dimajukan dari jadwal. Terburu-buru pasti membuat kita lebih panik. Belum lagi yang sedang melakukan pemanasan jadi terburu-buru menuju ke arah garis start. Dan panik menjelang race adalah hal yang tidak menyenangkan. Banyak sekali dampaknya, selain tertinggal dari gun time.

Bahkan Yasha Chatab, Co-Founder Indo Runnersmengunggah keluh kesahnya di facebook:

“Saya ikut kategori Half Marathon dan jam P*lar saya ngga salah waktu. Saya sungguh kaget bahwa jam 5:03 pelari HM sudah flag off, padahal saya masih warming up di area Race Central dekat Pocari Sweat. Jadinya tergesa² lah menuju START, menembus ratusan pelari 10k yg sudah memadati area. Saking panik nya, saya baru ingat pencet tombol jam beberapa ratus meter setelah start. Yg biasanya Run Happy jadi Run Panic… Alhasil pace kacau karena sudah ketinggalan, dan balon pacer HM Pocari yg saya ingin ikuti tidak kunjung terlihat. Seperti mengejar fatamorgana saja… Rusak lah pace dan lomba nya utk saya.. Berantakan rencana.”

Bukan masalah berapa menit atau berapa detik, tapi bagi para pelari waktu itu sangat berharga. Limit bahagia dan kecewa bisa ditentukan oleh perbedaan detik.

JARAK WAKTU FLAG-OFF ANTAR KATEGORI TERLALU DEKAT

Langit belum terlalu menyala tetapi rasanya jalanan  sudah terasa semakin padat. Rupanya saya yang berada di kategori Full Marathon sudah harus berbagi jalur dengan jarak di bawahnya.

Saat di persimpangan jalan, ada pelari di jarak yang sama dengan saya menanyakan ke marshall, “Yang FM jalurnya yang mana?”. Karena mungkin takut salah mengambil jalan.

Saya pun melihat ada pelari kategori Half Marathon (HM) yang berputar balik karena salah mengambil jalur. Mungkin karena suasana yang padat jadi dia tidak melihat papan petunjuk.

Untuk event lari yang memiliki jumlah peserta hingga 16.000, maka sudah diperkirakan padat.  Bagi para pelari elit yang mengejar podium pastinya akan berlari dengan kecepatan maksimal. Jadi akan merasakan kesulitan saat harus menerobos kerumunan pelari di kategori jarak sebelumnya.

BINGUNG MEMILIH JALUR UNTUK PELARI

“Mbak, boleh minggir dulu sebentar?” Ujar seorang petugas marshall saat saya berlari memasuki jalur Jl. H.R. Rasuna Said.

Seketika itu saya melihat ke belakang dan ternyata bus Trans Jakarta berada sekitar 3 meter di belakang. Terima kasih untuk Pak Supir yang tidak membunyikan klakson dan memilih berhenti dulu seiring saya menyingkir dari jalur. Karena terbayang kagetnya kalau tiba-tiba dikejutkan suara nyaring dari belakang saat sedang kepayahan berlari.

Saya pun sedikit bingung karena pelari diarahkan ke jalur bus tetapi ternyata jalur tersebut tidak benar-benar ditutup dari kendaraan. Kesabaran mulai teruji.

Sempat berpikir mungkin saya yang salah jalan, tetapi di jalur tersebut terdapat Water Station (WS) berada di sisi jalan untuk melayani para pelari. Ini yang meyakinkan saya untuk tetap di jalur tersebut. Memang pelari di arahkan ke jalur cepat, tetapi karena ada konstruksi jadi bus pun berada di jalur yang sama. Ya, ini memang serba dilema.

Jalur cepat Jl. H.R. Rasuna Said yang membuat pelari berbagi dengan bus Trans Jakarta.

Masih ada cerita tentang kebingungan saya sebagai pelari dalam memilih jalan. Ada saatnya saat memasuki jalur baru di KM 16 kemudian sudah dihadapi kendaraan yang melintas. Saat belok dari arah kiri (Jl. Veteran) tapi di arah kiri jalur yang akan dimasuki sudah banyak kendaraan.

Kebingungan semakin liar karena saya melihat ada pelari yang berlari di kiri jalan dan ada juga yang melintas di kanan jalan. Nah loh!

Sementara itu kendaraan tetap melintas dengan deras. Ternyata jalur lari sebenarnya ada di kanan jalan. Untung tangan saya masih berfungsi dengan baik untuk bisa memberi tanda untuk memberhentikan sejenak kendaraan yang melintas.

BUTUH PEMBATAS JALAN ATAU MARSHALL YANG GALAK

Maaf kalau saya katakan kalau Jakarta Marathon butuh marshall yang galak, karena para pengendara banyak yang mudah emosi. Ketika masuki Jl. H.R. Rasuda Said dari arah Jl. Gatot Subroto ada pengendara motor yang masuk ke jalur pelari dan mengomeli kami yang sedang berlari.

Rupanya orang itu tidak rela harus berbagi jalan dengan pelari. Padahal sudah ada pembatas jalan berupa con plastik yang dipakai untuk membatasi jalur untuk pelari dan pengendara motor atau mobil.

Sebagai orang yang merasa punya hak juga untuk memakai jalan maka saya pun tidak mau kalah galak.

Banyak mata yang mengarah pada saya saat itu. Dari mulai marshall dan juga pengendara. Tapi saya juga memaklumi posisi marshall yang mungkin sudah berjam-jam diperlakukan seperti itu oleh pengendara hingga akhirnya pasrah.

Untuk itu saya merasa pembatas jalan itu sangat penting. Bukan hanya di jalur padat mobil seperti Jl. H.R. Rasuna Said, tetapi juga di jalur Car Free day (CFD) di sepanjang Jl. M.H. Thamrin. Para pengguna jalan yang tidak mengendarai kendaraan bermesin tidak kalah membahayakannya.

Berlari zig zag tentunya kurang menyenangkan di ajang lomba lari. Tetapi ini sudah menjadi pilihan ketika berada di jalur yang memang untuk umum. CFD bukan hanya untuk pelari tetapi juga pejalan kaki, pengendara sepeda, dan juga pengendara skate board.

Sudah ada pagar betis yang memberi jalur aman untuk para peserta lomba, tetapi rupanya masih saja ada yang mencuri jalur tersebut untuk menyebrang. Untuk yang sedang berlari dengan kecepatan tertentu tentunya hal ini lumayan mengganggu. Fokus terbagi antara untuk berlari tetapi dan juga untuk tidak tertabrak atau menabrak.

Persimpangan jalan adalah bagian yang mesti mendapat perhatian lebih. Hal ini bukan hanya untuk faktor kenyamanan tetapi juga keamanan.

Odekta Naibaho, peraih podium 1 kategori 10K Putri mengeluhkan hal yang sama di media sosial. Odekta merasa perlu diberikan barrier di setiap persimpangan keluar masuk kendaraan dan lampu merah. Mau bagaimana pun, pelari akan sulit beradu kekuatan dengan kendaraan bermesin dan akhirnya memilih mengalah.

Ibnu Jamil pun mengunggah foto finis di akun facebook miliknya dengan dengan caption:

“Jakarta Marathon is truly extreme sports..bagaimana gak extrim kita lari ditemani mesin (motor dan mobil) yg sempat menutup track pelari di 1/4an harmony al hasil kita masuk ke jalur busway..untung bukan jalur pantura.”

Walaupun sudah ada petugas yang menjaga untuk menahan kendaraan saat pelari melintas, tetapi tetap saja ada yang bandel tetap menerobos. Jadi para pelari terkadang harus rela berhenti untuk memberi kesempatan kendaraan yang melintas.

Rupanya kalau hanya mengandalkan pagar betis tidak lah cukup. Perlu pembatas jalan seperti yang benar-benar layak dan sanggup memberi keamanan untuk para pelari. Tidak sekadar pembatas jalan berupa con dari plastik tetapi berupa barrier (bisa berupa fiber, beton, atau besi) yang lebih lebar dan rapat menutupi jalur pelari.

Ya, mungkin jadi memerlukan biaya yang lebih tinggi.

Tidak perlu di sepanjang jalan, tetapi di jalur-jalur persimpangan yang rawan untuk terjadi tabrakan antara pelari dan pengendara. Karena kembali lagi: kemananan adalah hal utama.

TIDAK SEMPAT UNTUK HAUS DAN LAPAR

Water Station resmi menemani komitmennya untuk berada di setiap 2,5K. Pocari Sweat menjadi sponsor minuman di Jakarta Marathon. Untuk yang tidak kuat dengan minuman isotonik, terdapat air mineral yang menjadi pilihan minuman untuk pelari.

Tetapi karena di meja awal sudah disambut dengan isotonik, saya pun sering terlewat untuk mengambil air mineral. Padahal rencana di awal untuk selang-seling memilih minuman isotonik dan air mineral. Sempat akhirnya meminum keduanya dalam satu WS. Alhasil perut saya kepenuhan air.

Pada KM 19 ke atas, perut semakin kembung karena diramaikan oleh WS komunitas di beberapa titik. Bukan hanya menyuguhkan minuman, tetapi juga berupa makanan. Buah-buahan adalah makanan yang paling banyak saya konsumsi. Dan pada umumnya di setiap WS disediakan buah semangka potong.

Foto: Christin Iskandar

Semangka menjadi favorit saya karena selain menyegarkan juga mengenyangkan. Semangka mengandung kandungan air yang tinggi jadi bisa sekaligus untuk membasahi tenggorokan.

Selain semangka, apel juga buah-buahan yang banyak didapati di beberapa WS. Makanan lainnya adalah kurma. Ini menjadi favorit karena kurma mengandung sumber energi yang dibutuhkan oleh para pelari.

Es krim. Makanan yang menjadi favorit saat di cuaca panas. Beberapa pelari mengunggah foto saat memakan makanan yang disukai semua kalangan ini.

Salah satu minuman yang membangkitkan semangat saat Jakarta Marathon kemarin adalah es kopi dan coke dingin. Pas sekali dinikmati saat sedang kelelahan berlari di cuaca yang semakin terik.

Sepertinya di Jakarta Marathon memang para pelari tidak diberi kesempatan untuk lapar dan haus.

SALING SUPPORT, SALING MEMBERI SEMANGAT

Jakarta adalah rumah berbagai komunitas lari. Saat Jakarta Marathon, banyak komunitas yang turun ke jalan untuk memberi semangat kepada para pelari.

Ini menjadi pelangi dari banyaknya catatan yang perlu diperbaiki. Bukan hanya makanan dan minuman, bantuan seperti pelukan menghangatkan para pelari yang sudah diambang rasa putus asa. Pada Jakarta Marathon, semua komunitas saling dukung tanpa melihat jersey yang dikenakannya.

Foto: Campur Sari Runner
Foto: Christin Iskandar

Pahit-manis melengkapi lomba marathon di Jakarta.

Jakarta Marathon 2017 bagi beberapa pelari masih terasa tidak terlalu banyak perubahan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tetap banyak catatan yang perlu diperbaiki.

Saya yakin masih banyak yang optimis agar Jakarta Marathon untuk tetap hidup. Jika dikelola dengan baik dapat meningkatkan promosi wisata Indonesia dan juga tentunya perbaikan ekonomi.

Tapi memang banyak sekali PR yang perlu dibenahi. Fajar, seorang musisi yang juga menggemari olahraga lari dan triathlon mengungkapkan testimonial mengenai Jakarta Marathon 2017:

“Alasan kenapa saya masih tersenyum di Jakarta Marathon 2017 adalah karena bertemu kawan-kawan komunitas dan pelari, baik peserta maupun supporter. Penyelenggaraan kelima ini tidak kunjung membaik, menurut saya pribadi tahun ini yang terburuk. Mengandalkan support pelari dan komunitas tanpa memperbaiki penyelenggaraan menurut saya adalah eksploitasi. Saya tidak akan membandingkan dengan lomba lain, tapi waktunya untuk memikirkan ulang konsep Jakarta Marathon untuk tahun ke depan. Karena Jakarta adalah kota saya, saya akan terus berlari!” #cantstop”

Foto: Christin Iskandar

Banyak orang awam yang masih belum mengerti mengapa jalan harus ditutup hanya untuk sekadar lomba lari seperti Jakarta Marathon. Sosialisasi memang harus dilakukan, bukan hanya untuk para pelari tetapi juga masyarakat umum.

Sosialisasi yang saya maksud bukan sekadar menyebarkan informasi penutupan jalan seminggu sebelum hari H, tetapi lebih ke pemahaman mengapa harus ada event lari marathon di kota Jakarta. Juga pemahaman mengapa jalan harus ditutup untuk event lari ini.

Bukan berupa perintah, tetapi ajakan. Tentunya akan lebih bisa diterima.

Sosialisasi bukan dalam waktu seminggu atau bahkan sebulan sebelum lomba. Sebaiknya dilakukan bertahap dari jauh-jauh hari dengan memanfaatkan media yang ada.

Bukan hanya PR pihak Event Organizer, tetapi juga pemerintah, dan kita semua yang memiliki harapan lomba lari yang berkualitas. Menyenangkan rasanya jika bisa berlari marathon di Jakarta dengan sambutan positif masyarakat seperti di negara-negara lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *