Bugaraga. Powerman Indonesia 2018 kembali hadir dan akan diselenggarakan di Alam Sutera, Tangerang, Minggu (8/4/2018). Gelaran keduanya di Tanah Air ini merupakan ajang duathlon terbesar. Tak pelak, 1.200 peserta hadir berkompetisi dan menampilkan kepiawaian mereka dalam lomba yang mengombinasikan lari dan sepeda ini, termasuk para pemula.

Adalah Andri Asmara, peserta pemula asal Bandung tersebut baru datang ke Tangerang pada sesi pengecekan kesiapan sepeda, Sabtu siang (7/4/2018). Datang bersama ketiga temannya, ia hendak mencoba ajang yang digerakkan oleh International Powerman Association (IPA).

“Baru kali ini ikut duathlon. Tertarik pengin nyobain sih, rasanya gimana ya, unik aja,” ujar Andri sambil tersenyum.

Kalau lari, lanjutnya, adalah jenis olahraga yang acap ia lakukan bersama komunitasnya, yakni Indo Runners Bandung. Tak hanya komunitas, Andri juga lari bersama rekan kerja kantornya yang akhirnya membuat komunitas pelari kantoran.

Soal persiapan, Andri sebelumya bertanya terlebih dahulu kepada teman-temannya yang pernah mengikuti ajang serupa Powerman Indonesia.

“Ini juga dadakan sih, jadi persiapannya nggak terlalu panjang. Awalnya, saya tanya dulu nih ke teman kantor yang udah pernah ikut juga tahun lalu. Terus langsung latihan aja sih sesuai dengan simulasi yang saya dapat,” paparnya.

Ia menjelaskan, selama satu bulan, Andri dan ketiga temannya latihan bersama. Di hari kerja, seusai pulang dari kantor, mereka latihan berlari dan disambung bersepeda. Pertama, mereka lari selama 1 jam, kemudian disambung naik sepeda dengan durasi serupa, dan diakhiri lari 30 menit.

Untuk Sabtu dan Minggu, ketiganya lari selama 1 jam, disambung naik sepeda 1 jam 30 menit, dan mengakhirinya dengan berlari lagi selama 1 jam. Di sisi lain, yang menjadi fokus utama ketiganya adalah saat proses transisi dari lari ke sepeda.

“Kebanyakan latihan di proses transisi sih. Dari lari ke sepeda, begitu sebaliknya,” imbuh Andri.

Proses transisi tersebut menjadi rawan lantaran kerap membuat otot dari kaki hingga pinggang mengalami cidera. Hal itu juga diakui Andri, menurutnya, proses tersebut merupakan bagian yang paling kurang nyaman.

“Biasanya sih bagian selangkangan, itu yang nggak enak. Semoga nggak cidera aja,” katanya sambil terbahak.

Selain persiapan fisik, Andri juga memperhatikan makanan dan minuman. Baginya, yang terpenting yaitu menjaga makanan yang tidak membuat sakit perut, seperti makanan pedas.

Kendati demikian, hal yang menjadi tantangan ketiganya adalah cuaca panas saat lomba berlangsung. Maklum, soalnya mereka berasal dari Bandung, kota dataran tinggi yang memiliki cuaca sejuk.

“Tantangannya itu panas. Itu sih yang paling terasa. Di Bandung kita terbiasa dingin, kalau panas pun nggak sepanas seperti di Tangerang ini. Nggak terbayang besok seperti apa,” ujarnya.

Serupa dengan Andri, Laode Ahdyar juga salah satu pemula yang ditemui kala sedang mengecek sepedanya. Pekerja asal Jakarta ini mengatakan, Powerman Indonesia 2018 juga ajang pertamanya.

“Belum pernah ikut, biasanya sih lari aja sama komunitas lari dari kantor. Makannya persiapannya kurang matang sih. Ini lagi cek sepeda, terutama pada gigi, rantai, dan ban,” imbuh Ahdyar.

Pilihan mengikuti ajang ini, diungkapkannya, hanya mencari kesenangan bersama teman-temannya. Kendati demikian, ia juga melakukan simulasi selama 1 bulan setiap 1 minggu sekali. Terkadang dirinya hanya latihan lari ataupun sepeda saja, dan akhir-akhir menjelang ajang dimulai baru latihan kombinasi lari dan sepeda.

Bagi Ahdyar, tantangan pada ajang ini yaitu pada atmosfer jalannya lomba. Karena belum pernah mengikuti ajang serupa, dirinya takut salah mengambil strategi.

“Takut kecepatan atau kelambatan karena belum tau atmosfernya gimana. Harus pintar mengatur waktu juga karena trek-nya panjang,” ungkapnya.

Tak ayal, ia harus mendorong kemampuan dan kecepatannya saat lomba. Soal target, dirinya tidak mengharapkan juara, yang terpenting bisa menyelesaikan lomba tanpa cedera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *