Ada yang unik dalam perhelatan Nusantarun atau ajang lari dengan jarak 100 kilometer lebih. Tahun ini akan dihelat Nusantarun Chapter 5 tepatnya pada 15-17 Desember 2017.

Sebanyak 224 pelari dari berbagai wilayah di Indonesia akan menyusuri jalanan mulai Purwokerto dengan suasana pedesaan yang asri hingga indahnya pemandangan dataran tinggi Dieng.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pelari-pelari akan mengemban misi kemanusiaan, yakni menggalang donasi untuk membangun kualitas pendidikan di lokasi sekitar garis finis.

Berlari jarak jauh tentu butuh persiapan matang bukan hanya fisik, tetapi juga mental, dan alat-alat yang dibutuhkan agar dapat berlari senyaman mungkin.

Salah satunya adalah menggunakan alas kaki agar berlari tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan di kaki, misalnya cedera atau lecet.

Sebagian besar orang tentu akan berpikir akan menggunakan sepatu dan spesifiknya adalah sepatu khusus lari supaya dapat berlari senyaman mungkin.

Namun, salah satu pelari yang tidak pernah absen menjadi peserta Nusantarun sejak pertama bergulir, Sandy Suryapranata.

Dia merupakan salah satu sosok yang sangat unik dan tidak biasa.

Ia ternyata selalu berlari menggunakan sandal berapa pun jauhnya jarak yang ditempuh.

Akan tetapi, ia justru sama sekali tidak mengalami masalah ketika berlari memakai sandal meski sudah pasti itu tidak nyaman di kaki dan rentan cedera.

“Awalnya saya biasa memakai sandal gunung buat mendaki gunung, saat turun saya coba sambil berlari dan ternyata enak. Saya pun coba berlari memakai sandal di jalan,” kata Sandy seperti dilansir BolaSport.com.

“Selanjutnya secara bertahap saya coba berlari menggunakan sandal mulai dari 5 km, 10 km, 20 km, 40 km, hingga 100 km ternyata tidak ada masalah dengan kaki saya. Akhirnya saya meneruskan berlari memakai sandal,” ujar dia.

Tahun ini hasil donasi yang terkumpul dari Nusantarun akan disumbangkan kepada Indonesia Overseas Alumni (IOA) dan mendukung gerakan #GurukuMaju.

Donasi tersebut akan digunakan untuk pengembangan 400 orang guru di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo.

Bukan tanpa sebab, berdasarkan Hasil Uji Kompetensi Guru pada 2016. Cara mengajar atau pedagogic guru-guru SD di Banjarnegara dan Dieng menempati urutan terendah.

Targetnya, lewat Nusantarun Chapter 5 akan menghasilkan donasi sebesar Rp 2 miliar. Sejauh ini, donasi yang sudah terkumpul mencapai lebih dari Rp 1 miliar.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *