Pelari yang mulai mengejar prestasi, pastinya ingin menambah tantangan di setiap lomba yang diikutinya. Salah satunya adalah dengan berangkat ke Seoul, Korea Selatan. Di sana ada lomba lari vertikal yang selalu ditunggu tiap tahunnya.

Vertikal? Ya lomba lari dengan memanfaatkan jalur tangga darurat sebuah gedung pencakar langit.

Inilah Lotte World Tower International Sky Run yang dihelat di Seoul, Korea Selatan, baru-baru ini pada pertengahan bulan Mei.

Pelari dari seluruh dunia berusaha untuk menyeberangi garis finish marathon lari terpanjang dan tertinggi secara vertikal ini. Tidak hanya di Seoul, ajang lomba ini merupakan hidangan pembuka para pelari guna menghadapi sembilan balapan sirkuit lari vertikal internasional tahun 2018.

Lotte World Tower International Sky Run yang kedua ini menghadirkan sejumlah 1.500 pelari baik amatir maupun professional yang terbagi menjadi tiga grup, yaitu elite, individu, dan estafet.

Kompetisi yang disponsori oleh perusahaan Lotte ini memiliki 691 lebih tangga, lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlombaan serupa di One World Trade Center di New York, Amerika Serikat. Mereka berlari dengan total 2.917 langkah dari lantai pertama hingga lantai 123, atau 555 meter dari lantai paling bawah.

Selama rangkaian lomba berlangsung, ajang prestisius ini akhirnya mampu dimenangkan oleh Suzy Walsham, seorang atlet dari Australia yang berhasil meraih lomba dalam kategori elite dengan mencatatkan waktu selama 18 menit 45,61 detik.

“Bangunan ini sangat besar dan menantang. Tapi juga bermanfaat untuk menaklukan bangunan ini dan mendapatkan pemandangan yang bagus. Di samping itu, saya juga merasa cukup kuat selama lomba,” kata Welsham seperti dikutip dari ABC News.

“Untuk mengatasi ketakutan mental, Anda jangan melihat ke bawah. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan, itu saya lakukan saat lantai ke-60. Jadi saya harus mencoba dan fokus pada setiap anak tangga dan teknik yang saya lakukan. Hasilnya, itu membawa saya ke puncak,” paparnya.

Adapun pelari professional dari Polandia, Piotr Lobodzinski berhak sebagai pemenang dalam lomba yang sama di kategori laki-laki. Pelari yang acap dipanggil Lobodzinski ini mencatatkan waktu dengan 15 menit 53,56 detik.

“Saya sangat senang sekarang karena saya bisa memperbaiki catatan waktu saya di tahun lalu. Sangat senang mengikuti ajang ini,” tutur Lobodzinski.

Di sisi lain, ajang ini memegang rekor sebagai ajang lomba lari vertikal tertingi dengan jumlah langkah besar untuk didaki di antara semua balapan Vertical World Circuit yang disertifikasi oleh International Skyrunning Federation. Dan tahun ini tiga pemenang teratas gelar laki-laki dan perempuan berhak mendapatkan total uang tunai sebesar 10 juta won atau sekitar Rp 130 juta  beserta piala.

Adapun pemenang pelari tahun lalu adalah Mark Vaughn dari Australia, yang menyelesaikan ajang tersebut dengan mencatatkan waktu selama 15 menit 44 detik.

Sementara itu, ajang ini juga memiliki tujuan sosialnya, yaitu bahwa semua hasil pendaftaran administrasi akan disumbangkan ke Yayasan yang menampung dan mengasuh para atlet muda Korea Selatan. Harapannya, seperti dikutip dari GMA News, dana tersebut mampu mengembangkan bibit muda pelari asal Korea.

Setelah dibuka seri marathon di Seol, ajang lari vertikal ini akan dilanjutkan di Filiphina. Pelari akan berlomba di hotel Shangri-La setinggi 250 meter di Bonifacio Global City 8 Juli 2018. Adapun tersisa seri-seri lainnya yang akan digelar di beberapa kota, di antaranya Paris, New York, dan London.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *