Harian Kompas akan segera menyelenggarakan Kompas Tambora Challenge, 4 – 7 April 2018. Lomba lari ultra marathon ini dimulai dari Pototano, Kabupaten Sumbawa Barat dan berakhir di Doro Ncanga, Kabupaten Dompu.

Di penyelenggaraan Kompas Tambora Challenge 2018 peserta akan diajak untuk berkompetisi melalui kategori Lintas Sumbawa 320K yang terbagi menjadi dua sub kategori, yaitu Full Ultra Marathon dan Relay Ultra Marathon.

Peserta kategori individu (Full Ultra Marathon) harus menempuh jarak 320 km dengan cut off time(COT) atau batas waktu selama 72 jam. Sedangkan, peserta dalam kategori beranting (Relay Ultra Marathon), akan terdiri dari dua pelari yang secara bergantian akan menempuh jarak total 320 km dengan COT yang sama.

Kompas Tambora Challenge 2018 dapat menjadi momentum yang tepat bagi para pelari ekstrem untuk menguji kemampuannya. Sebagai medan lari ultra marathon, Sumbawa merupakan sebuah daerah yang unik. Kompas Tambora Challenge: Lintas Sumbawa 320K yang digelar sejak 2015 dijuluki sebagai lomba lari “terpanjang” dan “terganas” di Asia Tenggara.

Perjuangan para peserta nantinya tidaklah mudah. Gunung Tambora yang meletus pertama kali pada 5 April 1815 meninggalkan “jejak” alam dan peradaban yang tidak biasa ditemukan di rute-rute lari ultra marathon lainnya.

Pada saat perlombaan, para peserta selain ditantang untuk “bersahabat” dengan iklim, medan dan dirinya sendiri untuk dapat menyelesaikan pertandingan.

Tidak hanya memiliki iklim panas khas Indonesia timur, beberapa daerah yang akan dilewati peserta dalam kategori Lintas Sumbawa 320K nantinya juga akan terdiri dari dataran tinggi.

Jarak tempuh 320 km setara dengan jarak Yogyakarta ke Surabaya atau lebih dari tujuh kali jarak lomba lari full marathon. Peserta dituntut untuk tidak sekadar memiliki kondisi fisik yang prima dan bermental “baja”.

Namun juga harus cerdas mengatur strategi dalam berlari untuk melewati cuaca panas terik di siang hari dan terhindar dari hipotermia karena cuaca yang sangat dingin di malam hari.

Bagi Harian Kompas sebagai pihak penyelenggara, gunung api dipandang tidak hanya menimbulkan malapetaka, tetapi juga selalu memberikan manfaat ekonomis, termasuk melahirkan peradaban bagi umat manusia.

Oleh karena itulah potensi yang ada perlu diberdayakan untuk mendorong kemajuan Pulau Sumbawa, sebagai andalan pendapatan ekonomi di Nusa Tenggara Barat.

Selain manfaat ekonomis, Kompas Tambora Challenge juga banyak memberikan pelajaran bagi para pelari, terutama mereka yang menggeluti kategori ultra marathon.  Perjalanan ultra marathon bukan saja sebuah kompetisi untuk memperebutkan gelar juara.

Lebih dari itu, di Kompas Tambora Challenge adalah sebuah “perjalanan” lari yang dimulai bahkan sebelum para peserta berlomba. Selama 3 tahun Kompas Tambora Challenge berlangsung, tidak sedikit peserta yang konsisten “melanjutkan” perjalanan mereka yang belum selesai di tahun sebelumnya dan kembali menantang dirinya sendiri untuk menyusuri keelokan Pulau Sumbawa.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *