Nama Inge Prasetyo, wanita kelahiran Yogyakarta 6 Juni 1980 ini, sudah sangat popular di kalangan pecinta olahraga triathlon tanah air. Betapa tidak, Inge adalah orang Indonesia pertama yang berhasil lolos ke Ironman World Championship yang akan digelar di Kona, Hawaii bulan Oktober mendatang.

Turnamen Ironman

Sebagai informasi, turnamen Ironman adalah ajang triathlon bergengsi dimana pesertanya harus berenang sejauh 3.8 km, dilanjutkan dengan bersepeda 180 km dan diakhiri dengan berlari 42.2 km. Para pemenang di setiap turnamen Ironman di seluruh dunia dibagi berdasarkan kelompok umur.

Nah, para juara di masing-masing kelompok umur di turnamen Ironman di seluruh dunia setiap tahunnya akan diadu lagi dalam turnamen tahunan Ironman tingkat dunia: Kona Ironman World Championsip.

Inge adalah orang Indonesia pertama yang berhasil lolos ke Kona, lewat keberhasilannya menjadi juara 1 (kelompok umur 35-39 tahun) dalam turnamen Ironman di Penghu, Taiwan pada 2 Oktober 2016 lalu. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan bangsa Indonesia.

Not a natural born athlete

Dengan prestasi yang luar biasa tadi, kamu mungkin berpikir bahwa Inge adalah seorang atlet yang memang telah menekuni latihan olahraga secara intensif sejak kecil. Salah besar.

Inge bukanlah seorang atlet professional menempuh pendidikan khusu olahraga seperti perkiraan kebanyaan orang. Dia adalah orang biasa dengan prestasi pendidikan yang mengagumkan, meraih sarjana teknik kimia dari UC Berkeley, USA.

Setelah lulus, Inge kemudian memilih untuk berkarir di Shanghai, China sampai tahun 2013 sebelum akhirnya memutuskan untuk serius menekuni dunia olahraga lari dan triathlon.

Dunia olahraga memang bukan hal yang asing bagi Inge. Saat kecil, sejarah lahir prematur membuat tubuhnya relatif lemah. “Saya menderita asma saat kecil dulu”, kenang Inge. Akhirnya pada usia 4 tahun, Inge didaftarkan sang Ibu untuk mengikuti les berenang. Hasilnya? Inge tidak hanya sembuh dari sakit asmanya, namun juga selalu terpilih untuk berkompetisi di tingkat provinsi DKI Jakarta.

Pada usia 11 tahun, Inge pun mulai berlatih lari di lapangan PASI Senayan. Dengan dasar kedua olahraga ini, pada usia 16 tahun, Inge memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi triathlon pertamanya di Batam. Sayangnya dia tidak berhasil finish.

“Waktu itu triathlon masih jarang, dan tidak ada yang tau konsepnya seperti apa. Saat diajak ikut lomba, saya berpikir ini cuma berenang, bersepeda dan lari seperti yang biasa saya lakukan. Tidak disangka jarak dan medan yang dilombakan lumayan sulit untuk pemula”, tukas Inge sambil tersenyum.

Serius menekuni triathlon

Setelah lomba di Batam, Inge tidak pernah lagi mengikuti kompetisi triathlon. Dengan pengalaman yang cukup traumatik tersebut, Inge bahkan sempat berjanji untuk tidak akan mengikuti trathlon lagi. Ia hanya mengikuti kompetisi lari dan lompat jauh saat masih duduk di bangku kuliah. Olahraga ini pun masih dilanjutkan saat bekerja di Shanghai.

Siapa sangka akhirnya pada tahun 2014, 18 tahun setelah kompetisi triathlon pertamanya, Inge kembali mengikuti sebuah turnamen triathlon (Olympic distance) di Shanghai. “Di Shanghai saya mengikuti sebuah komunias lari, dan tahun 2013 saya mulai diajak untuk mengikuti lomba long run“, kata Inge mengenang alasan dia mulai kembali menekuni triathlon.

Tidak tanggung-tanggung, Inge mengukir prestasi gemilang di triathlon keduanya ini. “Saya berhasil menjadi juara 2 wanita di kategori umur saya, dan juara 5 secara keseluruhan”, tukas Inge sambil tersenyum.

Pengalaman ini yang akhirnya membawa Inge semakin serius menekuni olahraga triathlon. Untuk persiapan menuju Kona pun Inge lebih sering menghabiskan waktu berlatih di Phuket, Thailand dibawah asuhan pelatih Jurgen Zack.

Prestasi di triathlon

Dengan ketekunannya dalam berlatih, Inge berhasil meraih banyak sekali prestasi mengagumkan, baik di ajang lari maupun triathlon. Beberapa prestasi membanggakan telah diraih Inge di beberapa turnamen triathlon di dalam maupun luar negeri, antara lain:

  • Juara 1 Pariaman Triathlon 2016
  • Juara 2 Nusalaut Adventure Triathlon 2016
  • Juara 2 Kategori Umur Herbalife Bali Triathlon 2016
  • Juara 1 Salahatu Adventure Aquathlon 2016
  • Juara 1 Kategori Umur Ironman Taiwan 2016
  • Juara 3 Kategori Umur Ironman 70.3 Liuzhou-China 2017
  • Juara 1 Sprint Distance Sungailiat Triathlon 2017

Pengalaman saat memulai triathlon

Triathlon selalu diidentikkan dengan sebuah olahraga yang mahal. Benarkah demikian? Inge memiliki pandangan tersendiri berdasarkan pengalaman pribadinya.

“Saya memulai triathlon dengan perlengkapan seadanya”, kata Inge. Trisuit yang dipakai dibeli secara online saat ada diskon. Tidak ada spesifikasi khusus dalam pemilihan trisuit saat itu, yang penting harus memiliki padding untuk kenyamanan saat bersepeda.

Sepeda yang digunakan pun bukan sepeda khusus untuk triathlon, bahkan Inge mengaku menggunakan sepeda yang dipinjam dari temannya. Sepatu yang digunakan pun hanya sepatu lari biasa.

“Yang terpenting dari triathlon adalah mental dan persiapan fisik, bukan di peralatannya”, tegas Inge, apalagi di saat baru mulai mencoba cabang olahraga ini.

Pengalaman Inge ini adalah bukti bahwa memulai triathlon tidak selalu menghabiskan banyak biaya. Namun jika kamu memiliki anggaran lebih, silakan menggunakan peralatan yang sesuai untuk mengurangi resiko cedera.

Penutup

Inge Prasetyo adalah contoh nyata seorang atlet triathlon dengan prestasi dunia namun berasal dari kalangan non atlit. Ketekunan dan kegigihan dalam berlatih menjadi kunci utama untuk berhasil. Sukses selalu, Inge.

 

Image: https://www.youtube.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *