“Olahraga mengajarkan disiplin, fokus, dan konsistensi. Nikmati passion, banyak yang bisa dipelajari. Di atas langit ada langit.” (Inge Prasetyo, 37 tahun, atlet triathlon wanita asal Indonesia)

Inge Prasetyo, atlet triathlon pertama dari Indonesia yang berhasil lolos pada kualifikasi Ironman World Championship 2017 pada Sabtu ini (14/10/2017) di Kona, Hawai. Pada akun media sosial-nya Inge telah mengunggah sebuah foto dengan membawa papan yang bertuliskan “Indonesia” lengkap dengan lambang bendera merah putih.

Inge bersama Andy Wibowo di Kona. (Foto: Facebook Inge Prasetyo)

Foto diunggah tepat satu hari yang lalu pada tanggal 11 Oktober 2017. Pada foto tersebut Inge bersama Andy Wibowo, yang juga seorang atlet triathlon pria yang berprestasi. Andy terlihat berdiri di samping Inge dengan membawa bendera merah putih yang terikat pada tongkat bambu yang dipegangnya. Saat itu sedang terselenggara parade nasional menyambut Kona.

Berdasarkan unggahan di akun instagramnya, Inge berangkat dari Jakarta pada hari minggu yang lalu. Sesampainya di Kona, wanita kelahiran Yogyakarta ini menikmati tempat tujuan dengan bersepeda di Queen Kaahumanu Highway.


IRONMAN WORLD CHAMPIONSHIP 2017

Ironman World Championship adalah event tahunan bergengsi bagi pecinta olahraga triathlon, telah berlangsung di Kona sejak tahun 1978. Turnamen dunia yang meliputi tiga cabang disiplin olahraga (renang, sepeda, dan lari) diselenggarakan oleh World Ironman Corporation.

Semenjak awal berlangsung hingga tahun 1980, turnamen ini berlangsung di pulau Oahu, dengan rute yang mengkombinasikan tiga event lomba yang sudah berlangsung di sana: Wakiki Roughwater Swim (2.4 mil/3.86km), Around-Oahu Bike Race (115mi/185.07km, yang sebenarnya berlangsung 2 hari), dan Honohulu Marathon. Jarak sepeda telah dikurangi 3 mil untuk masuk ke start rute lari marathon.

Pada tahun 1981, lokasi lomba beralih ke Big Island dan dengan jarak yang sama: Berenang di perairan terbuka Kailua-Kona Bay (3.86km), bersepeda melintasi Hawaiian Lava Desert dan berputar balik (180.25km), dan berlari marathon sepanjang pesisir Big Island dari Keauhou ke Keahole Point dan kembali ke Kailua-Kona, dan finish di Ali’i Drive.

Turnamen Ironman tingkat dunia ini semakin disorot pada tahun 2016. Untuk dapat menjadi peserta diharuskan untuk masuk kualifikasi pada perlombaan Ironman 70.3. Menjelang Ironman 2017, telah terselenggara 40 ajang lomba dengan jarak 70.3 sebagai perlombaan kualifikasi.

Inge Prasetyo adalah orang Indonesia pertama yang berhasil lolos ke Kona. Untuk bisa lolos kualifikasi ini tentunya tidak mudah. Atas ketekunannya dalam berlatih akhirnya wanita tangguh ini berhasil menjadi juara 1 (kelompok umur 35-39 tahun) dalam turnamen Ironman di Penghu, Taiwan pada 2 Oktober 2016 lalu.

Dengan prestasinya ini maka Inge telah berhasil masuk kualifikasi untuk dapat bertanding di Ironman World Championship yang berlangsung di Kona, Hawai. Prestasi yang tentunya sangat membanggakan bagi bangsa Indonesia.

MENGENAL INGE PRASETYO LEBIH DEKAT

 

Inge bukanlah seorang atlet professional. Dia adalah orang biasa dengan prestasi pendidikan yang mengagumkan dengan menjadi sarjana teknik kimia dari UC Berkeley, USA.

Setelah lulus, Inge kemudian memilih untuk berkarir di Shanghai, China sampai tahun 2013 sebelum akhirnya memutuskan untuk serius menekuni dunia olahraga lari dan triathlon.

Dunia olahraga memang bukan hal yang asing bagi Inge. Saat kecil, sejarah lahir prematur membuat tubuhnya relatif lemah. “Saya menderita asma saat kecil dulu”, kenang Inge. Akhirnya pada usia 4 tahun, Inge didaftarkan sang Ibu untuk mengikuti les berenang.

Hasilnya ternyata melebihi ekspetasi. Inge tidak hanya sembuh dari sakit asmanya, namun juga selalu terpilih untuk berkompetisi di tingkat provinsi DKI Jakarta.

Inge Prasetyo saat berlatih renang di PIK FIT

Pada usia 11 tahun, Inge mulai berlatih lari di lapangan PASI Senayan. Dengan dasar kedua olahraga ini, pada usia 16 tahun, Inge memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi triathlon pertamanya di Batam. Sayangnya dia tidak berhasil finish.

“Waktu itu triathlon masih jarang, dan tidak ada yang tau konsepnya seperti apa. Saat diajak ikut lomba, saya berpikir ini cuma berenang, bersepeda dan lari seperti yang biasa saya lakukan. Tidak disangka jarak dan medan yang dilombakan lumayan sulit untuk pemula”, tukas Inge sambil tersenyum.

Setelah lomba di Batam, Inge tidak pernah lagi mengikuti kompetisi triathlon. Dengan pengalaman yang cukup traumatik tersebut, Inge bahkan sempat berjanji untuk tidak akan mengikuti trathlon lagi. Ia hanya mengikuti kompetisi lari dan lompat jauh saat masih duduk di bangku kuliah. Olahraga ini pun masih dilanjutkan saat bekerja di Shanghai.

Siapa sangka akhirnya pada tahun 2014, 18 tahun setelah kompetisi triathlon pertamanya, Inge kembali mengikuti sebuah turnamen triathlon (Olympic distance) di Shanghai.

“Di Shanghai saya mengikuti sebuah komunias lari, dan tahun 2013 saya mulai diajak untuk mengikuti lomba long run“, kata Inge mengenang alasan dia mulai kembali menekuni triathlon.

Tidak tanggung-tanggung, Inge mengukir prestasi gemilang di triathlon keduanya ini. “Saya berhasil menjadi juara 2 wanita di kategori umur saya, dan juara 5 secara keseluruhan”, tukas Inge sambil tersenyum.

Inge Prasetyo bersama sahabatnya Sarah Costeira saat training race di Krabi, thailand. Inge mendapat posisi ke-2 overall female. (Foto: Facebook Inge Prasetyo)

Ketekunan selalu membawa hasil. Kini Inge menjadi atlet triathlon wanita yang penuh dengan prestasi. Lomba demi lomba dia lalui dengan hasil yang mengesankan.

Untuk persiapan menuju Kona pun Inge lebih sering menghabiskan waktu berlatih di Phuket, Thailand dibawah asuhan pelatih Jurgen Zack. Konsitensi adalah kunci dari keberhasilan yang dia dapat. Kutipan yang selalu saya ingat tentang Inge Prasetyo adalah: “Di atas langit selalu ada langit.”

Semoga sabtu ini Inge Prasetyo berhasil mencetak waktu terbaiknya di turnamen dunia Ironman. Good luck, Inget!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *