“Merencanakan untuk berlari marathon adalah seperti hidup. Segala kemungkinan bisa terjadi. Kamu bisa berlari cepat hari ini dan berlari lambat besok.”(Kipchoge, 32 tahun)

Eliud Kipchoge memang gagal mengejar targetnya untuk memecahkan rekor dunia, akan tetapi performanya tetap mendapat acungan jempol. Bukan hanya mendapat posisi pertama di Belin Marathon 2017, tetapi dalam kelengkapan performa dan penampilan.

Semenjak pra-event, media sudah ramai menggaungkan persaingan para pelari marathon kelas atas, yaitu Eliud Kipchoge, Wilson Kipsang, dan Kenenisa Bekele. Sementara itu rekor marathon dunia masih dipegang oleh Dennis Kimetto dengan waktu 2:02:57 di tahun 2014.

Photo: telegraph.co.uk

Pagi itu mendung sedang menghinggapi Berlin. Udara terasa tebal dan lembab. Ramalan cuaca resmi mengatakan bahwa kelembapan akan menyelimuti area berlari. Kelembapan bukan hal yang menyenangkan untuk para pelari elit.

Seiring intensitas hujan yang bertambah, pelari elit ini semakin kesulitan dalam berlari sangat cepat. Selain masalah resiko pijakan yang licin antara sepatu dan jalanan yang basah, juga baju basah yang menjadi terlalu melekat pada kulit. Belum lagi masalah body heat yang seharusnya keluar melalui keringat, jadi terhambat karena faktor cuaca dan udara yang tebal.

Pelari yang Fashionable

Melalui video streaming, saya menyaksikan keseruan persaingan para pelari elit yang turun. Hujan menambah drama persaingan, hingga dua dari nama tiga teratas tersisih di pertengahan. Sampai akhirnya kamera fokus pada dua pelari: Eliud Kipchoge dan Guye Adola.

Yang justru menarik perhatian saya adalah: Fashion.

Selain mendapat urutan pertama di Belin Marathon 2017, pelari ini saya anggap sebagai pelari paling fashionable.

Kipchoge tampak classy memakai paduan singlet dan arm sleeve putih. Half-tight hitam membuat warna putih yang membalut tubuh bagian atasnya semakin menyala. Satu harmonis dengan warna yang mendominasi di BMW Berlin Marathon.

Ditambah posisinya yang berada di urutan pertama menjadikan Kipchoge tampak stunning di area lomba, terutama di dua kilometer menjelang finish.

Di luar kontroversi apakah arm sleeve ini memang untuk menambah performa atau sekadar fashion semata, tapi diakui cukup pas dipakai pelari jarak jauh asal Kenya ini. Arm sleeve ini memang dikreasikan dengan tingkat keketatan yang sesuai agar fit di lengan saat dipakai, sekaligus memberi kehangatan saat berlari di tempat yang temperaturnya lebih dingin.

Saat menyaksikan penampilannya pada layar, saya melihat Kipchoge cukup nyaman memakai arm sleeve ini. Walaupun media setempat  menyebutkan bahwa udara kala itu lembab dan leboh hangat, tapi jika dibanding di negara asalnya tentu saja Berlin jauh lebih dingin.

Hal menarik berikutnya: sepatu yang merah menyala.

Alih-alih memakai sepatu yang senada dengan atasannya yang teduh dan di warna putih, Kipchoge justru mengenakan warna sepatu yang menyala. Tapi justru ini yang membuat penampilannya lebih hidup. Semua mata dengan mudah tertuju pada sepatu yang berada di kakinya.

Nike Vaporfly Elite merah mencerahkan Berlin yang sedang mendung diguyur hujan. Terlebih yang memakainya memang pelari yang menjadi pusat perhatian.

Photo: Nike.

Pesan “Beyond The Limits” tertulis di sisi lateral sol sepatu yang berwarna putih. Di sisi medial tertulis “EK”, inisial dari nama Eliud Kipchoge. Di bagian atas akan tampak tulisan yang menyebutkan nama istri dan anak-anaknya.

Photo: Nike.

Sebelumnya Kipchoge sudah menarik perhatian publik di eksperimen Nike’s Breaking2 dengan waktu marathon 2:00:25. Target saat itu adalah berada di sub 2 Jam.

Meski meleset beberapa detik dari yang direncanakan, tetapi menjadi waktu terbaik untuknya dan dunia. Sayangnya tidak bisa dicatat sebagai rekor dunia karena berbagai pertimbangan. Bersamaan dengan itu, sepatu yang dikenakannya pun menjadi perhatian para pemerhati dunia lari.

Walaupun mungkin sangat subjektif, jari-jari saya ini tidak tahan untuk menulis pujian untuk penampilan yang begitu stylish di Berlin Marathon 2017. Bahkan tape yang mengikat tulang keringnya pun tampak serasi dan catchy.

Sepertinya Kipchoge memang sudah disiapkan untuk mendapat podium pertama di ajang lomba lari ini. Setuju?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *