Bugaraga – Protein itu baik dan karbohidrat itu jahat. Padahal keduanya punya fungsi penting bagi tubuh dan bisa berdampak buruk jika dikonsumsi secara berlebihan. Menurut DRI (Dietary Reference Intake), 0,8 gram protein dibutuhkan per kilogram berat badan. Rata-rata 56 gram protein per hari untuk orang dengan banyak aktifitas dan 46 gram protein untuk orang dengan sedikit aktifitas.

Belakangan ini, diet tinggi protein cukup banyak digemari demi mendapatkan tubuh langsing secara cepat.

Berikut 7 serba-serbi tentang protein yang perlu diketahui.

  1. Protein memang membuat rasa kenyang lebih lama, tapi bukan berarti protein mempercepat proses penurunan berat badan

Protein membutuhkan waktu lama untuk dicerna dibandingkan dengan lemak dan karbohidrat. Itulah mengapa diet tinggi protein kian digemari. Meski demikian, diet tinggi protein tetap harus diimbangi dengan olahraga. Tanpa dibarengi dengan latihan, kelebihan protein akan diproses melalui glikolisis menjadi substrat molekuler, yang mana pada akhirnya akan menjadi tumpukan lemak di tubuh.

  1. Konsumsi protein dalam jumlah banyak tetap harus dibarengi dengan latihan tepat

Gambar: huvikeskus.ee

Tubuh kekar dan berotot tidak bisa serta merta didapatkan hanya dari konsumsi makanan, tapi juga dari latihan yang intens dan konsisten. Susu kaya protein saja tidak cukup untuk membentuk tubuh ala binaragawan. Meski demikian, kandungan asam amino berperan penting dalam perbaikan serta memaksimalkan pertumbuhan otot.

  1. Konsumsi protein secara berlebih dapat membahayakan ginjal

Gambar: Life Line Screening

Kandungan nitrogen yang terdapat pada protein hewani membuat ginjal harus bekerja keras agar zat ini tidak masuk ke dalam darah, serta dibuang melalui urin. Jika ginjal dipaksa untuk bekerja secara keras dan terus-menerus, maka perlahan ginjal akan mengalami kerusakan fungsi.

  1. Protein berlebih menimbulkan gas di perut

Diet rendah karbohidrat serta konsumsi makanan dengan kadar protein tinggi dapat menimbulkan gas berlebih di perut, membuat perut kembung dan sembelit. Menambahkan menu kaya serat bisa mengurangi gangguan pencernaan.

  1. Konsumsi makanan tinggi protein harus dibarengi dengan karbohidrat

Kekurangan karbohidrat dalam tubuh akan menyebabkan ketosis, yaitu menumpuknya zat keton dalam tubuh, dimana zat keton tersebit dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan, gangguan ginjal, serta ketidakseimbangan hormon. Selain itu, karbohidrat juga merupakan “makanan” bagi otak, yang akan membantu meningkatkan fokus, serta membuat tubuh lebih berenergi.

  1. Laki-laki membutuhkan konsumsi protein dalam jumlah lebih banyak dibandingkan perempuan

Kebutuhan protein dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya usia, jenis kelamin, berat badan, dan aktivitas fisik. Pada dasarnya, laki-laki memang membutuhkan konsumsi protein yang lebih banyak dibandingkan dengan perempuan. Akan tetapi perempuan dalam kondisi hamil atau beraktivitas lebih banyak tentu membutuhkan ekstra protein.

  1. Protein berlebih bisa merusak mood

Gambar: Medical Bag

Makanan yang dikonsumsi berpengaruh pada mood seseorang. Kurangnya konsumsi karbohidrat, menyebabkan otak memproduksi hormon bahagia, yang dikenal dengan serotonin dalam jumlah sedikit, sehingga dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih tersinggung, mudah marah, bahkan bisa mengarah pada depresi.

 

Semoga bermanf

 

Cover photo: Nuts.com

Rahajeng Kurniawati
A lifelong learner who loves to run and travel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *