Lari adalah olahraga yang populer saat ini karena murah, mudah, sehat dan menyenangkan. Namun, seperti halnya juga olahraga yang lain, lari pun dapat menyebabkan cedera.

Dalam seminar “Doctor to Runner: Run to be Healthy” pada 19 Agustus 2017 lalu, Dr. Andre Pontoh, salah satu ahli orthopedic top Indonesia memberikan beberapa contoh cedera karena berlari. Cedera pada pelari umumnya terjadi pada bagian paha, lutut, tulang kering dan kaki.

Cedera pada paha

#1 Iliotibial Band (ITB)

Gejala umumnya adalah nyeri pada bagian lutut, terutama pada saat sendi lutut ditekuk. Cedera ini bisa ditangani dengan beberapa jenis terapi, tergantung pada tingkatan cederanya.

Pada fase akut, pengendalian rasa sakit dan pembengkakan bisa dilakukan dengan obat antiinflamasi non steroid (NSAID), es, modifikasi aktivitas dan juga melalui injeksi kortikosteroid.

Pada fase sub-akut, digunakan terapi peregangan dan jaringan lunak. Sedangkan terapi penguatan otot panggul digunakan saat fase pemulihan.

Semua fase ini berlangsung sekitar 1-2 bulan. Tindakan operasi sangat jarang digunakan untuk cedera iliotibial band.

#2 Hamstring

Gejala umum adalah rasa nyeri tiba-tiba di belakang paha saat berolahraga. Cedera ini juga yang menimpa sprinter Usain Bolt pada turnamen IAAF World Championship di London beberapa waktu lalu.

Terapi yang umum dilakukan adalah dengan menggunakan metode RICE (rest, ice, compression and elevation). Selain itu juga bisa dibantu dengan gerakan-gerakan stretching dan penguatan pada otot hamstring.

Cedera pada lutut

#1 Nyeri Patellofemoral

Jenis cedera ini adalah cedera paling umum terjadi pada lutut seorang pelari. Gejalanya adalah rasa nyeri pada bagian depan lutut. Akibatnya lutut tidak bisa dilipat penuh, nyeri jika duduk dan berdiri, serta nyeri saat naik-turun tangga.

Terapi yang umum dilakukan adalah metode RICE, gerakan-gerakan penguatan otot, dan juga menggunakan knee brace atau knee tapping untuk sementara waktu. Cedera ini jarang sekali membutuhkan operasi.

Cedera pada tulang kering

#1 Shin splints

Shin splints atau juga dikenal sebagai tibial stress syndrome adalah cedera yang banyak terjadi pada pelari. Gejalanya adalah rasa nyeri pada tulang kering.

Penanganan paling mudah adalah dengan menggunakan metode RICE. Selain itu bisa menggunakan obat anti inflamasi dan melakukan fisioterapi. Operasi bisa saja dilakukan jika terbukti terdapat patah tulang.

Cedera pada kaki

#1 Achilles tendinitis

Cedera pada tendon achilles, yakni jaringan pita yang menghubungkan otot betis di belakang kaki bagian bawah tumit. Cedera ini sering terjadi pada pelari yang tiba-tiba meningkatkan intensitas atau durasi latihan mereka. Gejalanya adalah rasa sakit di seputar tendon dan memburuk pada saat beraktifitas.

Terapi yang umum adalah menggunakan metode RICE dan rutin melakukan peregangan pada otot betis. Jarang sekali membutuhkan tindakan operasi.

#2 Plantar fasciitis

Cedera ini berupa inflamasi yang terjadi pada sekelompok jaringan ligament di sepanjang telapak kaki dan menghubungkan tulang jari-jari kaki ke tulang tumit. Gejalanya adalah nyeri pada tumit, terutama terasa setelah beristirahat.

Terapi cedera ini relatif gampang, karena hanya diperlukan istirahat serta penggunaan obat anti inflamasi. Penggunaan sepatu dengan penyangga tumit juga dibutuhkan untuk mencegah terjadinya cedera.

#3 Stress fracture

Ini adalah retakan-retakan mikroskopik pada tulang kaki akibat tekanan berlebihan, misalnya karena tekanan-tekanan saat berlari. Gejalanya adalah rasa nyeri pada kaki saat beraktifitas namun hilang pada saat beristirahat.

Terapi RICE merupakan pilihan yang baik untuk menangani stress fracture ini. Selain itu penggunaan sepatu khusus orthopedi bisa membantu pemulihan dengan lebih cepat. Jarang sekali membutuhkan tindakan operasi.

Kesimpulan

Walaupun terkesan mudah dan menyenangkan, olahraga lari pun dapat menimbulkan cedera. Umumnya cedera pada pelari ini menimpa bagian paha, lutut, tulang kering dan kaki.

Yang perlu diingat, umumnya cedera-cedera pada olahraga lari bisa disembuhkan dengan beristirahat dan menggunakan terpai-terapi tertentu. Sangat jarang membutuhkan tindakan operasi.

 

Image: https://www.northernvirginiamag.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *