bugaraga

Pernah dengar Tahura? Ya, Tahura adalah singkatan dari Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Bandung. Area yang membentang dari Dago Pakar sampai Maribaya ini merupakan kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman.

Taman Hutan Rakyat Ir Djuanda (sumber: jabarprov.go.id)

Kawasan ini biasanya cukup ramai pada akhir pekan. Berjalan menyusuri taman ini memang menyenangkan karena selain  bisa menikmati keasrian lingkungannya, pengunjung juga bisa merasakan kesejukan dan kesegaran udara yang bersih.

Tahura juga menjadi tempat berolah raga lintas alam yang menyenangkan buat para pecinta olahraga lari. Dengan rute Tahura-Maribaya sepanjang kurang lebih 5 kilometer, yang berawal dari pintu masuk Dago Pakar sampai dengan Curug Omas, pecinta lari bisa menikmati pemandangan hutan dan aliran sungai Cikapundung.

Dengan kondisi jalur yang tidak begitu lebar, permukaan jalur berupa paving block dan tanah, serta elevasi sekitar 750m, Tahura pun menjadi lokasi yang menantang untuk ditempuh. Tak heran, event tahunan Tahura Trailrun selalu mendapat perhatian dari banyak pecinta lari dalam dan luar negeri.

Beberapa waktu lalu saya dan beberapa teman berkesempatan berlari menempuh jalur dalam Tahuran ini, dari Dago Pakar menuju Maribaya. Berikut sedikit liputannya.

Titik Awal – Goa Belanda

Rute lari dimulai dari Pintu I area Dago Pakar. Kami tiba di lokasi sekitar pukul 6 pagi, saat lapangan parkir masih lowong. Hawa dingin menjadi tantangan sekaligus penyemangat untuk mulai berlari.

Biaya yang dikeluarkan adalah Rp 12.000 per orang dan juga Rp 12.000 per mobil. Biaya ini dibayarkan di gerbang masuk Pintu I.

Setelah melalui pintu masuk tempat tiket masuk diperiksa, saya tiba di jembatan seperti gambar di atas. Ini adalah titik km 0 untuk mulai berlari. Dari lokasi ini, saya kemudian tiba di jalanan utama yang lebar dan beraspal halus, dipayungi pepohonan tinggi yang sangat rimbun.

Jalanan ini kemudian menyambung ke jalanan tanah dengan trotoar di sisi kiri, menuju ke area Goa Belanda, sebuah objek wisata yang selalu menjadi tujuan masyarakat di dalam area Tahura.

Goa Belanda ini berjarak sekitar 1.5km dari titik awal. Dan lokasi Goa Belanda ini juga sekaligus merupakan akhir dari jalan lebar dengan trotoar nyaman menjadi jalan sempit dengan ber-paving block.

Goa Belanda – Penangkaran Rusa

Selepas Goa Belanda, kami memasuki jalur lari yang relatif lebih menarik. Jalur sempit dengan permukaan paving block yang sudah tidak sempurna, dikelilingi dengan dinding bukit dan hamparan pepohonan yang sangat menyejukkan.

Kami masih sempat menikmati kabut pagi yang menyelimuti pepohonan di jalur yang akan ditempuh. Sepanjang jalur ini kami hanya ditemani oleh suara burung yang nyaring serta aliran sungai Cikapundung dari sisi kiri jalan.

Terkadang kami menemui bagian jalan yang becek akibat hujan di malam sebelumnya, ataupun patahan pohon yang tumbang menghalangi jalan dan belum sempat dibersihkan.

Penangkaran rusa adalah salah satu destinasi di area Tahura ini. Terletak sekitar 3.5km dari titik awal, dimana kita harus berbelok keluar dari jalur utama, menempuh tambahan jarak 500 m untuk sampai ke lokasi. Kami memilih untuk tidak tetap melanjutkan berlari ke arah Maribaya.

Namun bagi yang ingin menempuh rute berlari 5-6km, penangkaran rusa ini bisa menjadi perhentian untuk berbalik kembali ke titik 0.

Penangkaran Rusa – Jembatan Maribaya

Elevasi dari km 3 sudah mulai menanjak dengan lumayan terjal. Kondisi jalan yang agak rusak menambah tantangan untuk berlari. Namun kesejukan jalur Tahura tetap memacu kami untuk terus melanjutkan perjalanan.

Tidak terasa akhirnya kami mencapai sebuah jembatan yang cukup besar melintasi keindahan sungai Cikapundung. Pengukur jarak menunjukkan bahwa jarak sejauh 5km telah kami lalui. Menurut peta, Curug Omas terletak kurang lebih 300 meter lagi dari lokasi jembatan ini.

Jembatan di area Maribaya
Sungai Cikapundung yang melintas di bawah jembatan

Kami menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di jembatan ini untuk menikmati pemandangan sungai yang indah dan bersih. Setelah itu baru kembali melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir, Curug Omas.

Curug Omas Maribaya

Jalur menuju Curug Omas sedikit berbeda karena lebih sempit dengan permukaan jalan dari batu kali. Diperlukan kehatian-hatian lebih karena kondisi licin di beberapa bagian. Suasana di jalur ini tidak kalah asri dan sejuk. Pepohonan yang sangat rimbun di jalur ini pun seolah melindungi kami dari jangkauan matahari pagi.

Setelah 300 m, kami tiba di area pinggir sungai Cikapundung dengan view yang sangat indah. Sudah banyak orang yang samai di lokasi ini, yang menikmati keindahan alam sambil berfoto ria. Posisi lokasi ini merupakan awal air terjun (Curug) Omas, dengan sebuah jembatan kecil yang berada tepat di atas air terjun tersebut.

Pemandangan sungai Cikapundung di sisi atas Curug Omas.

Jembatan ini membawa kami menuju seberang sungai, yang difungsikan sebagai tempat beristirahat bagi pengunjung. Lokasi yang berbukit, dipenuhi dengan warung-warung mungil yang menawarkan minuman hangat dan jagung bakar untuk menemani dalam bersantai menikmati alam.

Tempat peristirahatan Curug Omas

Kami memilih untuk menyeberang dan kemudian berjalan menuju sebuah jembatan lain yang berada di bagian bawah jembatan awal. Posisi yang sangat tepat untuk menikmati keindahan Curug Omas Maribaya.

Semua rasa pegal di kaki langsung hilang menikmati keindahan air terjun ini. Walaupun terkena percikan air terjun, kegiatan foto bersama di lokasi ini adalah hal tidak boleh dilewatkan.

Perjalanan kembali ke titik awal

Setelah menikmati Curug Omas, kami kembali berlari menempuh jalur yang sama untuk kembali ke titik awal. Tanpa terasa total jarak 10km telah tercapai. Perjalanan pulang tidak seberat perjalan awal karena kontur jalur yang cenderung menurun.

Bagi yang tidak ingin bersusah payah berlari, bisa juga menggunakan jasa ojek dari jembatan Maribaya. Hanya saja harga yang diminta untuk jarak tempuh sampai ke Goa Belanda cukup tinggi.

Sebagai tambahan, jangan kuatir akan kehausan atau kelaparan di jalan. Di titik-titik tertentu kita akan bertemu dengan warung-warung kecil yang menawarkan tempat istirahat dengan aneka minuman hangat serta makanan ringan.

Bagi kami, berlari di Tahura adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Lumayan melelahkan, tapi terbayar dengan pemandangan dan suasana yang indah. Jadi, bagi pecinta kegiatan berolahraga di tengah alam terbuka, Tahura adalah pilihan yang sangat layak dicoba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *