Di samping memberikan manfaat fisik, berbagai jenis olahraga dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang, salah satunya olahraga lari.

Jenis olahraga yang satu ini tergolong aktivitas fisik yang cukup mudah untuk dilakukan namun dapat memberikan sensasi euforia pada otak yang dikenal dengan istiliah runner’s high. Maka tidak heran jika olahraga ini banyak diminati dengan jarak lari yang bervariasi bahkan hingga 100km.

Apa itu runner’s high?

Seperti dilansir Hellosehat.com, runner’s high adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan mekanisme bagaimana otak merespon olahraga lari. Ahli sains dalam bidang olahraga, Cedric Bryant, Ph.D (seperti yang dilansir WebMD) mendefinisikan runner’s high sebagai efek positif terhadap kondisi psikologis seseorang yang disebabkan olahraga dengan ritme tertentu dalam durasi yang lama, terutama yang terjadi pada olahraga lari.

Runner’s high lebih mengacu kepada pengalaman pribadi, sehingga sulit dideskripsikan secara pasti. Namun seperti pada olahraga lainnya, efek runner’s high tidak terlepas dari reaksi hormon pada otak, sehingga membantu seseorang menyeimbangkan mood, membantu relaksasi, dan meningkatkan energi saat berlari. Hal ini juga dapat berupa distraksi terhadap otak dari rasa nyeri dan lelah pada kaki saat berlari.

Bagaimana runner’s high dapat terjadi?

Terdapat beberapa mekanisme yang terjadi pada otak saat seseorang mulai berlari dan mempengaruhi kondisi runner’s high:

Peningkatan suhu tubuh –merupakan efek yang paling pertama terjadi saat kita berolahraga atau berlari yang ditandai dengan keringat lebih banyak. Namun menurut Bryant, peningkatan temperatur tubuh juga dapat berkaitan dengan kerja hipotalamus dalam mempengaruhi mood saat berlari.

Peningkatan kadar endorfin – adalah hal yang selanjutnya terjadi pada otak saat kita berlari dalam beberapa waktu. Hormon endorfin adalah penyebab utama efek relaksasi dan euforia saat berlari yang dihasilkan pada otak bagian depan, namun sekresi hormone endorfin dapat berbeda pada setiap orang dan juga dipengaruhi oleh durasi dan intensitas berlari.

Sekresi hormon noradrenaline – merupakan pemberi efek runner’s high di samping kadar endorfin. Hormon dopamin dan serotonin memberikan efek penyeimbang mood dan energi pada otak yang lebih banyak saat seseorang sedang beraktivitas fisik. Kedua substansi ini juga terdapat pada obat untuk mengatasi gejala depresi pada seseorang.

Hormon pemicu, endocannabinoid – merupakan hormon yang unik karena, sesuai namanya, memiliki efek yang sama saat tubuh merespon stimulan cannabis atau ganja. Hormon ini diduga memiliki efek runner’s high yang lebih kuat dibandingkan endorfin karena di saat endorfin hanya diproduksi bagian tertentu, endocannabinoid dapat diproduksi di berbagai sel tubuh. Efek dari hormon ini sudah pernah diujikan kepada tikus dalam suatu studi dan diduga memberikan efek dari penghilang rasa nyeri dan lelah saat berlari.
Efek olahraga lari terhadap otak

Di samping kesehatan fisik, runner’s high adalah pertanda bahwa tubuh dan otak sudah dapat beradaptasi dengan berlari. Berlari secara rutin juga dapat membantu kerja otak dalam beberapa hal berikut:

Mengendalikan mood – gangguan mood ringan dapat diatasi dengan mengalihkan perhatian sementara, berlari di luar ruangan adalah salah satu cara untuk melakukannya. Selain itu, hormon yang diproduksi saat berlari dapat memberikan efek antidepresan sehingga mood akan kembali seimbang saat setelah berlari.

Mengembalikan fokus – olahraga lari bisa dijadikan sebagai salah satu cara untuk beristirahat sejenak dari berbagai tekanan akan kesibukan. Aktif bergerak seperti saat berolahraga akan membantu otak untuk berhenti bekerja atau memikirkan dalam beberapa waktu sehingga otak dapat memulai bekerja kembali dalam kondisi yang lebih baik.

Mengasah kekuatan pikiran – pada kenyataannya otak dan anggota gerak saling terhubung sehingga otak dapat merasakan lelah saat kaki atau tangan bekerja sangat keras. Dengan mendorong tubuh terus berlari saat merasa lelah maka pikiran kita juga akan terlatih untuk terus bekerja di bawah tekanan.
Tips mencapai runner’s high saat berlari

Efek runner’s high memang tidak selalu terjadi pada seseorang setiap kali berlari, namun Anda tetap dapat rileks dan menikmati sesi olahraga lari dengan beberapa tips berikut:

Mulailah berlari dengan perlahan secara konstan dalam waktu 5-10 menit.

Menjaga kecepatan adalah kunci mencapai runner’s high, usahakan tidak terjadi perbedaan kecepatan yang terlalu jauh dalam waktu yang singkat.

Saat lelah, cobalah menurunkan kecepatan secara perlahan dan usahakan menghindari berhenti dan berjalan terlalu sering.

Irama gerakan kaki saat berlari adalah hal yang penting agar tubuh tetap rileks, untuk melatihnya cobalah berlari sambil mendengarkan musik.

Berlari dengan intensitas tinggi dapat memicu keringat berlebih, oleh karena itu hindari rasa haus dan konsumsi air secukupnya sekitar 15-30 sebelum berlari.

Gunakan pakaian dan sepatu yang sesuai dengan lingkungan untuk menghindari cedera atau lecet saat berlari.
Jika merasa sakit atau merasa tidak nyaman pada tubuh segeralah berhenti.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *