Bugaraga – Sudah tidur hingga 10 jam, tapi lari 500 meter saja sudah merasa lelah? Mungkin kamu mengalami kelelahan adrenal! Kelelahan adrenaladalah keadaan stres yang berkepanjangan, akan membuat lonjakan hormon stres, yaitu kortisol dan adrenalin, konstan tinggi dan mengurangi kemampuan kita mengatasi stres. Kelelahan adrenal dapat terjadi secara bertahap, mempengaruhi kerja seluruh tubuh, dan pada kasus yang berat dapat menimbulkan gangguan kesehatan atau memperburuk penyakit yang sudah ada.

Serem ya?

Apa Sih Penyebab Kelelahan Adrenal?

Penyebab paling umum dari kelelahan adrenal adalah stres pada fisik atau mental. Stres dapat dipicu dari tekanan kerja, aktivitas fisik yang terlalu berat, trauma, masalah rumah tangga, penyakit fisik diderita, hingga se-simpel perasaan cinta yang nggak terbalas.

Penyebab-penyebab ini memicu perasaan takut, marah, rasa bersalah, depresi, tekanan mental, kemudian menyebabkan kualitas tidur atau istirahat yang buruk.

Source: deherba.com

Ketika kita stres, tubuh kita akan masuk ke dalam mode “melawan atau lari”. Kelenjar adrenal akan menghasilkan lonjakan hormon stres (kortisol dan adrenalin) sehingga memungkinkan kita untuk berpikir dan bertindak cepat. Nah stres yang berkepanjangan karena pekerjaan yang terus menumpuk, misalnya, akan membuat kadar kedua hormon itu menjadi konstan tinggi.

Rentetan penyebab stres inilah yang membuat kita merasa capek padahal nggak ngapa-ngapain, alias rasa lelah yang tidak berkesudahan, karena fungsi kelenjar adrenal yang terganggu. Hal ini mengakibatkan ketidakseimbangan hormon seperti hormon kortisol berlebih namun menurunkan sekresi hormon lainnya.

Akibatnya, kemampuan tubuh untuk kita mengatasi stres menjadi berkurang. Kondisi inilah yang disebut sebagai kelelahan adrenal.

Gejala Kelelahan Adrenal

Sebenarnya, kelelahan adrenal masih sulit untuk dikenali karena tes yang baku dan kompatibel untuk mendeteksi seseorang mengalami gangguan fungsi adrenal masih tidak umum di masyarakat. Namun pada umumnya, kelelahan adrenal menunjukkan gejala sebagai berikut:

  • Merasa kelelahan terus menerus
  • Otot terasa lemas
  • Penurunan nafsu makan
  • Gangguan pencenaan seperti perut, mual hingga diare
  • Tekanan darah rendah
  • Depresi dan mudah marah
  • Kadar gula darah rendah
  • Sakit kepala
  • Terlalu sering ingin memakan makanan asin dalam batas tidak wajar
  • Siklus menstruasi tidak teratur

Berlari Saat Mengalami Kelelahan Adrenal, Boleh Nggak Ya?

Olahraga bisa menyembuhkan, namun kalau overtraining, tentu bisa juga memperparah kelelahan adrenal. Kalau sudah terlanjur stres berat, berlari terlalu sering dengan jarak berkilo-kilometer bisa menyebabkan kelelahan dan badan lemas dalam jangka panjang. Apalagi untuk atlet, memaksakan untuk latihan terus menerus saat sedang stres dapat memperburuk performanya. Nggak hanya atlet, regular runners juga kadang terlalu semangat untuk berlari sekian kilometer, demi mengejar peningkatan progres kemampuan berlarinya. Padahal sebenarnya, lebih penting untuk mengutamakan durasi waktu kamu berlari daripada kilometer yang ditempuh.

Berlari bisa jadi salah satu penyembuh kelelahan, asal kamu melakukannya dengan tepat (Source: livehappily.com)

Bukannya nggak boleh, tapi untuk penderita kelelahan adrenal, perlu untuk menjaga level olahraga lari kamu pada easiest level. Dengan olahraga lari yang rutin namun tidak terlalu melelahkan dapat meregulasikan detak jantung untuk lebih rileks dan meringankan stres yang diderita.  Dengan melakukan hal-hal ini, kamu akan bisa mengurangi stres dan memberi kamu lebih banyak energi untuk berlatih secara normal sehari-hari.

 

Cover Picture (Source: Safebee.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *