Kita berolahraga dengan begitu semangat dan keras, hingga basah kuyup bermandi keringat. Kita pun yakin ada sekian banyak kalori yang terbakar dalam aktivitas itu.

Namun, kita mungkin lupa, tanpa pemulihan yang tepat, semua akan sia-sia. Keringat terbuang percuma, tanpa ada manfaat bagi tubuh.

Kenapa bisa demikian?

Seringkali kita melupakan beberapa rutinitas seperti istirahat dan menghindari hal tertentu. Padahal di balik itu semua, manfaatnya justru signifikan.

Misalnya, istirahat yang bisa mengembalikan kerusakan jaringan otot. Kemudian konsisten menghindari kegiatan-kegiatan tertentu juga dapat berefek menurunkan berat badan, membentuk otot lebih baik, dan mengurangi rasa sakit.

Berikut beberapa kesalahan umum yang harus dihindari setelah berolahraga dengan keras.

4. Mengasup obat

Tentu, bila kita mengalami cedera atau merasa sangat sakit setelah berolahraga keras, mungkin tak masalah menggunakan anti-inflamasi, seperti ibuprofen misalnya.

Akan menjadi masalah bila kita meminum pil seperti “makan permen” setiap malam, hanya untuk mengatasi rasa sakit parah, atau untuk menghindari rasa lelah saat berolahraga.

“Kalau kita merasa mengandalkan suplemen sebelum atau pasca latihan atau obat anti-inflamasi, ini adalah kesempatan bagus untuk menjauhi dan mengevaluasi kembali menu makan, gaya hidup, dan rutinitas latihan,” kata Costich.

Apakah ada kesenjangan dalam pola makan sehingga kekurangan gizi? Apakah latihan yang dilakukan terlalu keras pada otot atau sendi?

“Tujuannya adalah agar olahraga memiliki dampak positif pada kesehatan tubuh, fisik dan mental, jadi jika apa yang dilakukan tidak tercapai, tidak ada kata terlambat untuk menggantinya,” kata Costich.

5. Terlalu sering berolahraga

Olahraga terlalu sering juga tidak disarankan. Misalnya, pagi ini berlatih tinju, kemudian berlari saat sore, berlatih tinju lagi esok pagi dan berlari lagi saat esok sore.

Costich mengatakan hal itu mungkin tidak cukup memberi otot jeda waktu untuk memperbaiki dan membangun kembali jaringan yang rusak.

“Salah satu hal terburuk yang kita lihat adalah melakukan olahraga berlebih secara langsung dari satu latihan ke latihan lainnya,” kata Costich.

“Ketika kita hanya mengejar hasil yang cepat, kita cenderung terlalu banyak dengan jeda singkat, yang seringkali menyebabkan cedera,” katanya.

Nah, daripada menjerumuskan diri sendiri, lebih baik percaya pada komitmen gaya hidup jangka panjang yang berkelanjutan serta konsisten untuk mendapatkan hasil terbaik.

Tidak masalah olahraga dua kali sehari, selama semua dilakukan dengan cara benar.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *